OPINI: EKSPOSE KEARSIPAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MASYARAKAT

Rabu, 5 April 2017 11:02:34 - Oleh : usperpus

Ekspose Kearsipan

Bedah Buku & Talk Show Tes CPNS: Yuk, buruan daftar !

Kunjungan SD Muhammadiyah Mutihan

Bantuan Paket Buku untuk Perpustakaan komunitas 2017

Pojok Baca dalam Pameran Seni Rupa Kulon Progo 2017

Perpustakaan siap cetak penulis remaja berbakat Kulon Progo

 

 

OPINI: EKSPOSE KEARSIPAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MASYARAKAT

(Oleh: Nur Jatu Hidayati, A.Md.)

 

Pendahuluan

Menurut Undang - Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, di definisikan sebagai rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga Negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pengertian dalam lingkup kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara mengandung arti bahwa arsip sebagai bahan pertanggungjawaban pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan serta mengandung nilai - nilai sejarah harus dikelola dan diselamatkan. Undang - Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik menjamin pemenuhan hak publik akan keterbukaan informasi. Jika dikaitkan dengan kearsipan, maka dapat diartikan bahwa kearsipan yang ada harus dapat dipublikasikan kepada masyarakat sesuai dengan aturan yang berlaku.

Selain itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan sebagai Lembaga Kearsipan di wilayah Kabupaten Kulon Progo berkewajiban untuk melakukan pembinaan kearsipan di wilayahnya. Diharapkan dengan adanya publikasi berupa Ekspose Kearsipan dapat meningkatkan dan menciptakan masyarakat pembelajar (learning society) yang berujung pada peningkatan kecerdasan kehidupan bangsa.


Ekspose Kearsipan

Apresiasi Kearsipan merupakan cerminan nilai budaya yang luhur terhadap nilai-nilai nasional dan kesejarahan.  Perhatian terhadap pentingnya arsip bagi kehidupan berbangsa dan bernegara perlu diwujudkan dalam bentuk  penyampaian informasi sebagai rekaman memori kolektif bangsa dan bahan pertanggungjawaban nasional.

Ekspose Kearsipan Kulon Progo Dalam Lintasan Sejarah yang diselenggarakan pada tanggal 23 Maret - 5 April 2017 adalah ungkapan dinamika proses berbangsa dan bernegara dalam lingkup Kulon Progo dari masa ke masa yang ditampilkan melalui perpaduan dari arsip, seni dan teknologi. Gagasan untuk menyelenggarakan Ekspose Kearsipan Kulon Progo Dalam Lintasan Sejarah  bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya arsip, mengangkat peranan arsip sebagai bagian penting dalam proses kehidupan berbangsa guna memupuk rasa cinta tanah air, semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu, Ekspose Kearsipan memberikan akses arsip statis pada publik untuk kepentingan pemerintahan, pembangunan, penelitian, dan ilmu pengetahuan.


Ekspose Kearsipan sebagai Media Pembelajaran Masyarakat

Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti  buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Mendasar pada kedua definisi tersebut, maka media pembelajaran dapat di definisikan sebagai segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.

Levie & Lents (1982) mengemukakan 4 (empat) fungsi media pembelajaran, khususnya media visual. Jika dikaitkan dengan Ekspose Kearsipan, sebagai berikut:

  1. Fungsi atensi merupakan fungsi menarik dan mengarahkan perhatian masyarakat untuk berkonsentrasi kepada materi informasi yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan. Semakin tampilan disajikan secara menarik, maka akan mendapat perhatian dan daya ingat lebih dari masayarakat.
  2. Fungsi afektif berkaitan dengan taraf kenyamanan atau kenikmatan masyarakat ketika mempelajari dan memperhatikan sesuatu. Misalkan: arsip foto yang menggugah emosi (arsip foto tentang sejarah atau perang).
  3. Fungsi kognitif terlihat dari temuan - temuan ilmiah yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
  4. Fungsi kompensatoris terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks pemahaman terhadap teks dan membantu otak mengorganisasikan informasi tekstual dan mengingatnya kembali.

Menurut Kemp & Dayton (1985:28), media pembelajaran dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media itu digunakan untuk perorangan, kelompok, atau  kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu :

  1. Memotivasi minat dan tindakan masyarakat, secara umum akan mempengaruhi sikap, nilai, perilaku dan emosi.
  2. Menyajikan informasi. Isi dan bentuk penyajian bersifat umum berfungsi sebagai pengantar, ringkasan laporan, atau pengetahuan latar belakang.
  3. Memberi instruksi, berkaitan dengan keterlibatan masyarakat dalam pikiran dan mental sehingga aktivitas pembelajaran melalui Ekspose Kearsipan dapat tersamapaikan.


Ekspose Kearsipan sebagai media pembelajaran masyarakat mendorong pemerintah daerah, khususnya Sumber Daya Manusia (SDM) Kearsipan untuk selalu berinovasi dan menambah wawasan dan pengetahuannya mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. Penyampaian informasi kesejarahan dengan cara yang lebih menarik diharapkan dapat menjadikan masyarakat cinta dan gemar akan arsip. Selain itu, koordinasi dengan pihak - pihak atau komunitas pecinta arsip seperti Watespahpoh dinilai sangat potensif.

Penyesuaian bentuk arsip menjadi karya seni (dibingkai, dipajang) dengan sentuhan teknologi (di scan ) ini  sebenarnya bertujuan untuk memperkenalkan arsip kepada masyarakat dengan cara yang mudah dipahami dan menarik. Akan jauh lebih menarik apabila dalam penyajian masyarakat disuguhi materi dengan sentuhan teknologi sesuai perkembangan jaman, tidak hanya sebatas arsip tekstual atau foto yang di scan serta pemandu yang berkualitas.

Sejarah yang diceritakan dalam arsip di Ekspose Kearsipan ini membantu masyarakat untuk lebih dalam mengetahui peristiwa sejarah yang terjadi di sekitar wilayah Kulon Progo, baik untuk melengkapi ilmu ataupun peristiwa yang sama sekali belum diketahui khalayak.

Arsip statis yang ditampilkan adalah beberapa produk Lembaga Kearsipan Daerah Kulon Progo dan Komunitas dan dari berbagai penelusuran, beberapa berupa foto yang ditampilkan dalam Ekspose Kearsipan Kulon Progo Dalam Lintasan Sejarah terdiri dari 120 lembar tersebut antara lain :

-          Arsip sejarah berdirinya Kulon Progo;

-          Arsip tentang Nyi Ageng Serang;

-          Arsip foto Kereta lori pengangkut mangaan Kliripan, Kokap ke stasiun Pakualaman Tahun 1910;

-          Arsip foto Kondisi tambang mangaan Kliripan, Kokap;

-          Arsip foto Peresmian jembatan Kali Serang, Bendungan;

-          Arsip foto Penggunaan pertama  jembatan Kali Serang, Bendungan dengan gerobak oleh Bupati Adikarta R.M. Temenggung Notosoebroto Tahun1923;

-          Arsip foto suasana rapat penggabungan Kabupaten Adikarta dengan Kabupaten Kulon Progo;

-          Arsip foto Hulpzienkenhuis Wates;

-          Arsip foto Poliklieniek Sentolo;

-          Arsip foto Poliklieniek Boetoeh;

-          Arsip foto Peresmian Monumen Peringatan 100 Tahun Kabupaten Adikarta, persembahan warga Tionghoa (di Teteg Wetan) 23 Desember 1931;

-          dan beberapa arsip statis lainnya.

Arsip statis berupa foto yang ditampilkan tersebut antara lain :

-          Arsip foto Kereta lori pengangkut mangaan Kliripan, Kokap ke stasiun Pakualaman Tahun 1910;

-          Arsip foto Kondisi tambang mangaan Kliripan, Kokap;

-          Arsip foto Peresmian jembatan Kali Serang, Bendungan;

-          Arsip foto Penggunaan pertama  jembatan Kali Serang, Bendungan dengan gerobak oleh Bupati Adikarta R.M. Temenggung Notosoebroto Tahun1923;

-          Arsip foto suasana rapat penggabungan Kabupaten Adikarta dengan Kabupaten Kulon Progo;

-          Arsip foto Hulpzienkenhuis Wates;

-          Arsip foto Poliklieniek Sentolo;

-          Arsip foto Poliklieniek Boetoeh;

-          Arsip foto Peresmian Monumen Peringatan 100 Tahun Kabupaten Adikarta, persembahan warga Tionghoa (di Teteg Wetan) 23 Desember 1931;

-          dan beberapa arsip lainnya

-          Arsip dari Komunitas lainnya

 

Penutup

Dengan penyelenggaran Ekpose Kearsipan yang menggandeng komunitas dalam masyarakat, maka tepatlah bahwa Ekspose Kearsipan Kulon Progo Dalam Lintasan Sejarah menjadi satu diantara upaya - upaya strategis yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kulon Progo sebagai dalam rangka pembinaan kearsipan dan memberikan akses arsip satis yang seluas-luasnya  kepada publik untuk kepentingan pemerintahan, pembangunan, penelitian, dan ilmu pengetahuan.

            Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, mampukah Ekspose Kearsipan Kulon Progo Dalam Lintasan Sejarah bisa bertahan, menjadi lebih baik ke depannya dan memberikan manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat Kulon Progo pada umumnya? Mari kita lihat perkembangannya sama - sama.


DAFTAR PUSTAKA


Undang - Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik;

Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan;

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/

Wawancara dengan L.Edy Saputra, S.H.,M.M. sebagai PPTK penyelenggaraan Ekpose Kearsipan.

« Kembali | Kirim | Versi cetak