WFH, WFO, Ngantor

Pandemi belum juga pergi, si petaka belum benar mereda. Upaya dan rekayasa yang sudah dicoba belum juga membawa rasa lega, rasa takut-khawatir masih menghantui. Dalam situasi ini roda hidup tidak boleh berhenti. Sementara pengedalian belum bisa tuntas, WFH menjadi pilihan yang cerdas. WFH perlu dilakukan agar fungsi-fungsi layanan tetap bisa dijalankan dan penyebaran covid bisa ditekan. Ia bagaikan exit strategy yang menjadi solusi atas dilematisnya situasi.

Sejak diberlakukan sebagai exit strategy, istilah WHF menjadi begitu familiar dan populer. Namun anehnya, entah dari mana atau siapa yang memulai dalam perjalanannya muncul istilah padanan (paralelisme) yakni WFO (Work From Home). Sejatinya istilah WFO dari segi kaidah bahasa tidaklah tepat kalau tidak mau dikatakan salah. Mengapa demikian? Mari kita kupas.

Sebelum membahas WFO, untuk perbandingan mari kita lihat istilah lain yang senada, yaitu BDR (Belajar dari Rumah). Di dalam dunia pendidikan ada istilah Belajar dari Rumah (BDR), tetapi tidak muncul padanannya yakni BDS (Belajar dari Sekolah). Mengapa, ya karena istilah itu akan terdengar asing dan terasa aneh. Bukankah sekolah memang tempat belajar? Karena itu tidak perlu ada tambahan kata DARI (Belajar DARI sekolah), cukup dikatakan sekolah atau pergi sekolah. Contoh dalam  kalimat “Sunarti pergi ke sekolah”. Tidak tepat jika ada kalimat “Sunarti belajar dari sekolah”. Sedangkan untuk istilah BDR (Belajar dari Rumah) memang sudah tepat. Mengapa, karena belajar yang semestinya dilakukan di sekolah karena sesuatu hal harus dilakukan DARI rumah. Maka pilihan kata DARI sudah tepat. Nah karenanya, hanya karena ada istilah BDR (belajar dari rumah) maka tidak serta merta bisa dibenarkan adanya istilah padanan BDS (belajar dari sekolah), sebagai gantinya cukup dengan kalimat “… pergi ke sekolah”.

Hal ini berlaku juga dengan istilah WFH-WFO. Secara kaidah bahasa, istilah WFH memang sudah tepat sebab bekerja (work) yang semestinya dilakukan di kantor karena sesuatu hal harus dilakukan DARI rumah. Maka muncul istilah WFH (work from home). Sehingga kalimat, “Sundarto hari ini bekerja dari rumah (WFH)” memang tepat. Tetapi istilah WFO kurang tepat karena bekerja itu selayaknya memang di kantor (office) jadi tidak perlu ada tambahan kata DARI kantor. Bekerja, ya memang di kantor bukan DARI kantor. Maka kalimat “Sundarto hari ini bekerja dari kantor (WFO)” akan terasa janggal. Lalu adakah istilah pengganti yang lebih tepat dan benar untuk kata WFO? Ada, yakni kata “ngantor”. Kalimat, “Sundarto hari ini bekerja dari kantor” di atas bisa diganti dengan kalimat “Sundarto hari ini ngantor”. Kata “ngantor” mengandung pengertian bahwa seseorang itu masuk kantor. Dalam hal ini masuk kantor maksudnya ya bekerja di kantor. Jadi istilah WFO akan lebih tepat jika diganti dengan istilah “ngantor”.

Namun sayang istilah “ngantor” ini meskipun lebih benar secara kaidah bahasa tapi kurang populer dibanding dengan istilah WFO yang sudah salah kaprah. Fenomena salah kaprah demikian memang cukup banyak ditemui dalam ragam Bahasa Indonesia. Sebut saja beberapa istilah yang salah kaprah, seperti “pulang pergi”, “ganti rugi”, dan masih banyak lagi.***