Harus Sampai pada Impact to Society!

Yogyakarta -- Ada lima komponen utama yang harus ada bagi prasyarat berdirinya sebuah perpustakaan, yakni collection, human resource, system, impact to society, dan space. Hal ini diungkap Labibah Zain dalam paparannya bertajuk “Trasformasi Digital Layanan Perpustakaan” pada Forkom Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DIY, 04 Mei 2023 di RM Bale Timoho Resto. Labibah dengan tegas menekankan bahwa perpustakaan bukanlah gudang Ilmu, apalagi gudang buku! Sebab jika demikian berarti hanya satu komponen saja yang terpenuhi, collection! Padahal komponen lain seperti impact to society “…. justru yang paling penting!” seru Labibah. Ya! perpustakaan harus menghasilkan perubahan (impact) bagi masyarakat (society)-penggunanya. Dampak perubahan ini tidak harus berwujud fisik seperti yang selama ini dipahami dan diserukan lewat TPBIS, tetapi tak kalah penting perubahan sikap dan perilaku masyarakat, misalnya masyarakat semakin toleran, menghargai keragaman dan perbedaan, peduli pada lingkungan, dan lainnya. Itulah sejatinya esensi layanan perpustakaan, pungkas Labibah.

Forkom kali ini memang berbeda. Bertempat di pusat kota di sebuah resto berkelas dengan desain dekor bunga-bunga angrek menjuntai di beberapa sudut, layaknya pesta pernikahan, dengan sambutan menu selamat datang ala nDesa: kacang godog, lemper, tape ketan-emping, ditambah aroma teh manis, membuat peserta kembali segar dan bergairah setelah perjalanan jauh. Power besar ini tampaknya sengaja disiapkan panitia untuk bekal menghadapi empat narasumber luar biasa yang sudah siap tempur di mimbar depan!

Dinamika forkom mulai slow down saat Ibu Anni membawakan materi Srikandi, sebuah aplikasi terkait kearsipan, setelah sebelumnya Ibu Labibah tampil berapi-api penuh semangat. Masih terkait kearsipan, materi ketiga yang dipresentasikan oleh Mas Arif Rahman Bramantya “Transformasi Digital Bidang Karsipan” terasa datar melanjutkan gaya Ibu Anni, walau sedikit menggeliat. Satu hal yang perlu dicetak tebal dari paparan Arif, yakni tentang empat pilar kearsipan, meliputi: TND, JRA, SKA, SKKA.          

Hari semakin siang, udara semakin panas, rasa gerah dan jenuh mulai menjalar manakala tampil narsum keempat, Fery Anggara, SE, MM, membawakan materi “Layanan Prima di Era Transformasi Digital.” Untunglah pada sesi amat ‘berat’ ini tampil seorang narsum yang sudah memiliki jam terbang tinggi di dunia public speaking dan sudah malang melintang di dunia broadcast. Kepiawaian Fery membawa suasanapun mampu menyelamatkan dan membawa sesi pamungkas ini dengan sukses. Selain tampil dengan menghibur, materi yang dibawakanpun amat relevan dan membumi. Menurut Fery ada lima elemen utama dalam pelayanan prima: reliability, assurance, tangible, emphaty, dan resposiveness. Inti dari pelayanan prima ini adalah melayani melampaui dari yang diharapkan klien, demikian Fery mengakhiri uraiannya.

Satu tarikan nafas lega menandai berkahirnya sesi keempat, setelah pembawa acara menyatakan tidak ada sesi tanya jawab karena mempetnya waktu. Persis di belakang peserta sudah tersaji menu makan siang yang terlalu sulit untuk tidak meliriknya. Selamat menikmati dan Sayonara….sayup terdengar suara pembawa acara yang terkalahkan suara riuh denting garpu, sendok dan piring!(you are)