GARA-GARA BIJI CHESTNUT



      Hampir semua orang di belahan dunia memanfaatkan kecanggihan teknologi masa kini, termasuk salah satunya media telekomunikasi melalui jaringan internet. Mulai dari usia anak-anak sampai orang tua telah mengenal perangkat telekomunikasi, contohnya telepon genggam (handphone). Orang bisa mengakses berbagai informasi dengan begitu mudahnya. Sarana komunikasi ini penting sehingga menjadi suatu kebutuhan.
       Itu pula yang menjadi bekal bagi Emine, seorang gadis remaja berasal dari Izmir, sebuah kota metropolitan yang terletak di ujung barat Anatolia dan merupakan kota terbesar ketiga di Turki setelah Istanbul dan Ankara. Dia punya pengalaman dan  kisah menarik mengenai telepon genggam. Sebuah kisah bermula ketika gadis belia bermata biru, berhidung mancung, lesung pipit nan berparas cantik ini menginjakkan kakinya di Kota Istanbul. Dia bersama Ayse, sahabat karibnya mengisi liburan selama 2 (dua) minggu. Mereka bersahabat sejak kecil, kemana pun pergi hampir selalu bersama. Mereka masih mempunyai hubungan darah, selain rumah tinggal berdekatan, Ayah Emine merupakan kakak kandung Ibu Ayse.
      Saat libur sekolah tiba, mereka berdua berencana akan melakukan touring ke Kota Istanbul, kota terbesar Turki, yang dalam sejarah juga dikenal sebagai Konstantinopel dan Bizantium, adalah kota terpadat di Turki yang menjadi pusat perekonomian, budaya dan sejarah negara tersebut. Kota yang menyajikan keindahan tersendiri, membentang melintasi Selat Bosporus di antara Laut Marmara dan Laut Hitam. Segera setelah hari pertama libur sekolah, Emine dan Ayse berangkat berlibur menuju Istanbul dengan mengendarai mobil bersama dengan Osman, sang paman yang bekerja di sana. Perjalanan dari rumah menuju kota Istanbul menempuh waktu selama  6 jam 30 menit atau sejauh 482 km (299 mil), dilalui dengan lancar tanpa hambatan. Sesekali mereka berhenti untuk beristirahat sejenak sembari makan dan minum. Dari kaca mobil, terlihat wajah ceria, senyum bahagia mereka. Di setiap perjalanan mereka saling bercanda satu sama lain untuk membuang rasa jenuh. Sejauh mata memandang, mereka tidak melewatkan sedikit pun obyek yang membuat terpukau, menambah semangat berpetualang.
       Waktu segera berlalu, tanpa terasa mereka telah sampai ke tujuan. Yah, Kota Istanbul. Kota terbesar di Turki. Untuk kesekian kali, mereka kunjungi. Selama liburan mereka menginap di rumah Paman Osman. Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga Paman Osman. Semua telah dipersiapkan sedemikian rupa, sehingga Emine dan Ayse merasa betah dan nyaman. Kedua gadis ini, dipersilakan beristirahat dan menginap. Malam itu Kota Istanbul terang benderang, langit-langit kota seolah bermandikan cahaya, keindahan bintang yang bersinar nun jauh di atas sana, menambah syahdu, nyaman, mengantarkan mereka untuk terlelap, terbuai dalam mimpi indah.
Keesokan pagi yang cerah, bias jingga menghiasi langit dari ufuk timur, udara begitu sejuk, menginspirasi setiap jiwa untuk segera terbangun dari tidurnya dan menyambut rezeki Sang Pencipta.  Pagi-pagi sekali keluarga Paman Osman sudah beraktifitas, demikian pula tamu-tamu cantiknya, Emine dan Ayse. Pagi ini, sudah bersiap melakukan trip pertama mereka. Dengan kostum kasual, tas mungil berisi bekal ala kadarnya, dan handphone serta tidak ketinggalan kamera pocket yang ciamik tentunya. Ada beberapa obyek wisata dalam daftar kunjungan mereka selama di Istanbul, Sultanahmet Mosque atau Blue Mosque, Hagia Sophia, Topkapi Palace, Dolmabahce Palace, Galata Tower, Panorama 1453 History Museum, Taksim Square, Grand Bazaar, Besiktas Stadium, dan lokasi terakhir Turkish and Islamic Arts Museum.
     Hari pertama, mereka mengunjungi Sultanahmet Mosque atau lebih dikenal dengan Blue Mosque, masjid yang  terkenal dan menjadi ikon seluruh wisata di Turki. Mesjid yang berada di kawasan Sultanahmet Square ini begitu ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun manca negara, selain tempatnya yang teduh di luar masjid banyak penjaja makanan seperti pedagang roti dan jagung rebus/bakar. Emine dan Ayse tidak melewatkan kesempatan untuk menikmati kemegahan dan keindahan masjid. Setelah sejenak bersantai, keduanya  berjalan kaki menuju Hagia Sophia, karena Masjid dibangun berhadapan dengan Hagia Sophia. Museum megah ini banyak dikunjungi oleh wisatawan, sungguh sebuah bangunan dengan arsitektur menawan, ditambah dengan seni kaligrafi yang memukau. Bangunan ini dikatakan sebagai salah satu pencapaian tertinggi dalam arsitektur pada zamannya. Mereka berdua menyempatkan berfoto di dekat air mancur dengan latar belakang Masjid Biru dan Hagia Sophia. Seketika Ayse merasa harus ke toilet, dia segera bergegas namun sebelum pergi, ia menitipkan tas kepada Emine. "Emine, aku mau ke toilet tunggu sebantar ya, pesan Ayse pada Emine sembari berlari kecil. Emine pun menggangguk, sambil mata menyapu pemandangan indah di sekelilingnya, dan tanpa sadar mengayunkan langkah demi langkah meninggalkan tempat semula, sepeninggal Ayse. Di sisi lain, Ayse keluar dari toilet dengan nafas lega, dengan tersenyum kecil ia keluar menuju tempat Emine menunggu. Namun, Ayse tidak menemukan Emine. Ia pun menunggu berharap Emine sedang pergi membeli jagung rebus kesukaannya. Tetapi setelah beberapa waktu lamanya menunggu, Emine tidak juga terlihat batang hidungnya. Ayse pun sempat khawatir dan lama kelamaan kekhawatirannya berubah menjadi panik tatkala mengingat ia tidak membawa tas kecil, dan itu berarti dia tidak membawa uang sepeser pun begitu juga handphone berikut identitas diri. Ayse mulai mencari Emine dengan wajah pucat pasi. Begitu banyak orang berlalu lalang di tempat itu, sehingga mempersulit Ayse menemukan Emine. Ayse kemudian memberanikan diri bertanya dengan orang-orang yang ia jumpai barangkali melihat gadis berlesung pipit dengan kostum kasual lengkap dengan atribut kamera. Hanya saja, tidak satu pun dari mereka yang memberikan jawaban memuaskan. Di saat kebingungannya memuncak tiba-tiba ada tangan menepuk pundaknya, "Nah...ketemu juga, " teriak Emine, dan Ayse segera memeluknya. Perasaan tidak karuan begitu membuncah di hatinya, antara khawatir, takut,  cemas dan tentunya jengkel. Emine pun segera meminta maaf karena meninggalkannya. Ternyata Emine tertarik dengan Biji Chestnut panggang, camilan khas Istanbul berasa empuk, manis, harum, dan kaya protein, yang kebetulan berada di seputaran kawasan itu, cuma terletak di pojok dan dikerumuni banyak pembeli. Sesudah membeli Biji Chestnut, Emine pun mencari-cari Ayse, yang pada akhirnya bertemu di taman dekat air mancur. Karena merasa lelah, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah Paman Osman, dengan mengendarai Big Bus Istanbul.
      Selama perjalanan pulang, Ayse terdiam, ia merasakan kekhawatiran yang mendalam, hilang sesaat di Hagia Sophia. Demikian pula yang dirasakan oleh Emine. Pengalaman ini menjadi sebuah pengalaman yang amat berharga bagi keduanya, bahwa kemana pun pergi jangan lupa membawa handphone sebagai alat komunikasi, dan bekal termasuk identitas diri. Mereka pun menceritakan kejadian ini kepada keluarga Paman Osman. Sembari menghabiskan secangkir teh hangat, ketika makan malam bersama, Paman Osman berpesan supaya mereka berdua harus saling menjaga satu sama lain dan berkomunikasi ketika berpergian berdua. Semenjak kejadian itu, akhirnya kemana pun mereka berdua pergi selalu saling mengingatkan dan menjaga jangan sampai peristiwa yang sama terulang kembali. Mereka pun menyelesaikan agenda liburan selama di Istanbul dengan hati riang dan suka cita.