cerpen
(Mahasiswa Magang Sastra Indonesia UNY)
Ojan menatap kosong layar laptop. Pikirannya melayang entah ke mana. Yang pasti bayangan tentang teman-teman seperjuangan dengan pakaian toga memenuhi pikirannya. Senyum bahagia mereka rasanya menjadi menyakitkan baginya.
Kamar kos dengan pencahayaan remang berukuran tiga kali tiga. Barang-barang tergeletak tak sesuai tempatnya. Debu-debu pada lantai yang tak pernah disapu membuat siapa saja yang menginjakkan kaki merasa risih. Namun, penghuni kamar tidak peduli dengan kondisi itu.
Ojan meraup wajahnya kasar. Wajah kusam berminyak. Rambut gondrong melebihi daun telinga. Semua terlihat berantakan. Entah kapan terakhir kali tubuh kurus itu membersihkan diri. Yang terpenting baginya sekarang adalah menyelesaikan tugas akhir ini. Dengan begitu, ia bisa membungkam mulut orang-orang berisik yang selalu bertanya, “kapan skripsimu selesai?” atau “mau sampai kapan menjadi beban orang tuamu?”
Ojan meringkuk di atas kasur. Matanya memanas. Terpejam sedikit saja, air mata itu jatuh. Merutuki diri mengapa harus dirinya yang berada di situasi seperti ini. Ia melakukan yang sama, usaha yang sama, tekad yang sama, semua sama seperti apa yang dilakukan teman-temannya. Hanya saja dirinya seperti kurang beruntung.
Ting
Suara notifikasi ponsel. Benda itu sudah lama ia abaikan. Karena setiap kali membukanya, yang terpampang di depan mata hanya akan membuatnya semakin gila. Namun, entah dorongan dari mana kali ini tangannya tergerak meraih ponsel itu. Mungkin saja ia perlu memberi kabar untuk orang tua di kampung halaman sana bahwa dirinya masih hidup di sini.
Matanya membaca satu persatu notifikasi. Hingga perhatiannya terhenti pada sebuah pesan Email. Nama pengirim membuat dahinya mengernyit.
ojanuarixx@xxxxx.com
Hai, Ojan. Bagaimana kabarku 5 tahun mendatang? Hahaha… Harusnya kau tak perlu bingung jika masih mengingatnya. Aku adalah kau. Kau adalah aku. Aku 18 tahun dan kau 23 tahun bukan? Waktu yang pas untukmu memakai toga kelulusan. Ya, jika kau berhasil menamatkan kuliah di kampus yang sedang aku usahakan sekarang. Terlepas dari kehidupan kuliah yang akan lebih menakutkan seperti kata orang-orang, selesaikan. Harus kau ingat perjuangan untuk mendapatkan kampus ini tidak mudah! Ini keputusanmu. Jika kau lupa, coba ingat-ingat ketika kau merengek ke Mamak meminta izin dan Bapak yang kerja keras untuk biaya yang tidak banyak itu. Aku di sini pun juga lelah pulang sore setiap hari untuk belajar. Semoga kau membaca ini ketika sudah memakai toga kelulusanmu, ya. Namun, jika belum juga tidak apa-apa. Yang terpenting, selesaikan.
Dari Diriku Untukku,
Ojanuari
Seutas senyum kecil muncul. Ia mengingatnya. Pesan yang ia tulis di Email saat berusia 18 tahun yang ia jadwalkan pengiriman 5 tahun mendatang kepada dirinya sendiri.
Ia harus menyelesaikan apa yang sudah menjadi keputusannya. Ia kembali berhadapan dengan layar laptop. Jari-jarinya mulai bergerak lincah di atas keyboard. Merutuki diri tidak akan ada habisnya. Memikirkan ucapan orang-orang di luar sana hanya akan membuatnya gila. Ia harus bergerak. Melawan segala hal yang menghambatnya.
Ting
ojanuarixx@xxxxx.com
Aku bangga padamu.
Dari Diriku Untukku,
Ojanuari
Ojan tersenyum, lantas menyimpan ponselnya di saku celana. Siang ini matahari bersinar terik. Ditambah rasa gerah karena jubah hitam yang melekat di tubuhnya. Namun, tidak apa-apa. Momen ini telah ia tunggu sejak lama.
Ojan memakai topi toganya, kemudian berlari menghampiri Mamak dan Bapak yang siap dipotret dengan latar gedung rektorat kampusnya.