Kendati sudah hampir lima tahun, air sumur bor itu masih saja belum bening sempurna seperti yang diharapkan. Masih ada endapan berwarna kuning, pertanda ada kandungan zat besi. Suatu waktu seorang ahli sumur memberikan saran kepada Pak Juan si pemilik agar memasukkan arang dan pecahan bata merah ke dalam lobang sumur bornya.
Hari Minggu pagi yang cerah, di saat Pak Juan bersama istri sedang tidak ada agenda keluar, keduanya sepakat untuk mencoba menjalankan nasihat si ahli sumur, sekaligus hendak membersihkan “pompa celup” yang memang saatnya perawatan. Jadilah ahli sumur dadakan. Suami istri ini dengan PeDenya membongkar sumur itu. Setelah menyiapkan arang dan bata merah serta beberapa peralatan lain, merekapun beraksi. Sumur bor dengan diameter 4’ itu memiliki kedalaman 16 meter. Pompa air yang berfungsi menaikkan air dari dalam sumur ke penampungan ditanam di dalam sumur, yang dipasang di ujung pipa yang menyalurkan air ke penampungan. Pompa jenis ini dikenal dengan nama “pompa celup”. Cara kerja “pompa celup” ini mirip dengan pompa kecil yang digunakan untuk memutar air di aquarium. Panjang pipa dari “pompa celup” ke bibir sumur adalah 15 meter. Berarti posisi pompa celup berada 1 meter di atas dasar sumur. Total ada 4 pipa yang disambung dari “pompa celup” ke bibir sumur: tiga pipa dengan panjang masing-masing 4 meter dan satu pipa dengan panjang 3 meter.
Setelah mengangkat “pompa celup” dengan mengeluarkan seluruh pipa, mereka pun segera membongkar pompa dan membersihkannya. Namun tatkala hendak mengembalikan bagian sparepart pompa ke keadaan semula tenyata tidak pas.
Pak Juan : “Loh Bun, kok ini gak bisa dipasang ya, cincin saringan ini gak bisa dipasang!”
Istri : “Loh kok bisa sih Yah, tadi gimana?”
Pak Juan : “Lah aku dah ngikutin urutan yang tadi kok!”
Istri : “Tapi kok gak pas ya…?”
Pak Juan : “Justru itu yang bikin aku pusing. Terus gimana nih. Gawat kalau pompa ini malah rusak, masih baru dan mahal je, Rp3.500.000,- loh kemarin.”
Istri :”Tenang, gak perlu panik. Kita pelajari sekali lagi. Oh ya, aku ingat. Kita kan masih punya pompa yang lama. coba kita lihat susunannya.”
Pak Juan : “OK, aku ke atas, coba kulihatnya!" Lalu, "Nah, dah tahu Bun. Ternyata susunannya kebalik. Coba kita susun ulang.”
---- sesaat kemudian---
Pak Juan : “Yeyy… berhasil! Pas Bun semua sudah terpasang!”
Isrti : “Oh…syukurlah. Tiga setengah juta terselamatkan!"
Satu tahap pekerjaan selesai, membersihkan pompa. Tahap berikutnya memasukkan arang dan pecahan bata merah ke dalam sumur. Setelah mencuci dan membersihkan arang dan pecahan bata yang hendak digunakan, Pak Juan memasukkan arang dan pecahan bata ke dalam sumur. Lapis pertama arang baru di susul lapis kedua pecahan bata. Setelah merasa cukup, barulah “pompa celup” yang dipasang di ujung pipa diturunkan dalam sumur, lalu disusul pipa kedua dengan disambungkan pada pipa pertama itu. Baru setengah meter pipa kedua turun tiba-tiba terhenti dan tidak mau turun lagi. Dicoba lagi didorong lebih keras, tetap tidak mau. Beberapa kali dicoba dengan cara dihujam, masih saja tidak bisa turun. Pipa itu mandeg hanya di kedalam itu, seperti terhalang sudah terasa mentok dan tidak bisa turun lagi. Pak Juan dan istri heran sekaligus panik. Berbagai spekulasi pun muncul di kepala mereka.
Pak Juan : “Aneh ya Bun, baru separuh pipa kok dah gak mau turun ya pipanya, ini baru sepertiga kedalaman sumur loh, padahal masih ada dua pipa lagi.”
Istri : “Iya betul Yah, ini masih jauh dari permuakaan air!”
Pak Juan : “Coba mari kita analisis bersama Bun” wuih Pak Juan sok ilmiah nih.
Istri : “Apa mungkin arang dan pecahan bata yang dimasukkan tadi terlalu banyak ya Yah sehingga sumur menjadi lebih dangkal.”
Pak Juan : ”Hm, ya bisa saja. Masuk akal sih. Tapi masak iya, baru beberapa genggam saja tadi arang dan bata yang kumasukkan kok sampai separuh sumur naiknya. Lagian tadi dah kukira-kira juga kok. Menurut perkiraanku gak ada setengah meter naiknya dengan jumlah arang dan bata yang kumasukkan itu. Berarti mestinya kedalaman sumur sekarang 15,5 meter. Nah dengan total panjang pipa 15 meter, mestinya keempat pipa itu masuk semua dong!”
Iatri : ”Iya, tadi aku juga lihat kok. Cuma sedikit arang dan bata yang Ayah masukkan.”
Pak Juan : ”Berarti harus ada penjelasan lain!” selidik Pak Juan.
Istri : ”Ok, tadi waktu memasukkan ke dalam sumur kayaknya arangnya gak dipecah-pecah ya Yah, masih utuh dalam kepingan aslinya ya?”
Pak Juan : “Iya betul Bun… terus?”
Istri : ”Ada kemungkinan waktu arang dilempar ke dalam sumur nyangkut Yah, mengingat diameter sumur bor yang kecil cuma 4’. Nah mungkin bongkahan arang itu nyangkut di tengah sumur dan terus ketambah bongkahan-bongkahan lain dan tertumpuk pecahan bata itu.” Jelas istrinya.
Pak Juan : ”Ough, ya ya… penjelasan ini lebih masuk akal Bun.”
Begitulah, mereka berdiskusi. Ada dua argumen, pertama arang dan bata yang dimasukkan terlalu banyak sehingga dasar sumur menjadi naik. Argumen kedua, arang yang dilempar ke sumur nyangkut di tengah sumur dan tertumpuk di tengah sumur. Mereka lalu menghitung kemungkinan tindakan yang bisa dilakukan. Jika argumen pertama benar, maka hanya ada satu solusi: harus memanggil ahli sumur bor. Jika ini yang dilakukan, sudah kebayang di benak mereka betapa repotnya: harus mencari ahli sumur, belum lagi pekerjaan semakin tambah rumit, bertambah banyak serta membutuhkan waktu lama. Padahal tugas-tugas lain dari kantor seperti menyiapkan bahan-bahan akreditasi kampus juga masih belum tersentuh. Pusiiiing! Namun, jika argumen kedua yang benar, maka bisa dicoba diatasi sendiri. Hanya perlu mencari empat pipa lain yang sudah tak terpakai untuk mendorong arang dan bata yang nyangkut itu hingga ke dasar sumur. Dalam diskusi yang lumayan intens itu akhirnya mereka pun sepakat dan yakin pada argumen kedua dan siap melakukan aksi.
Sementara itu waktu sudah hampir jam 12.00. Sang istri minta waktu untuk meneruskan memasak untuk makan siang, sedangkan Pak Juan naik ke atas mencari pipa-pipa lama yang tak terpakai di gudang. Setelah mendapat empat pipa yang tak terpakai Pak Juan dengan penuh percaya diri melakukan rencana itu tanpa sang istri. Setelah menyiapkan keempat pipa itu, Pak Juan memasukkan pipa pertama ke dalam sumur. Setelah itu ia meraih pipa kedua untuk disambung pada pipa pertama dan dimasukan ke dalam sumur. Pak Juan memegang pangkal pipa yang ada di bibir sumur sementara tangan satunya hendak meraih pipa kedua untuk disambungkan pada pipa pertama. Celaka, pipa kedua berada cukup jauh dan tangannya tak mampu menjangkaunya. Pak Juan meraih tali tambang yang ada di dekatnya. Mengetahui aksi sang suami sang istri menyela!
Istri : “Pipa pertama ditali dulu Yah, pakai tambang biar gak jatuh ke dalam sumur!”
Pak Juan : “Gak usah ini saya kait saja pakai tambang gak perlu ditali nanti malah ribet.”
Pak Juan akhirnya mengaitkan pipa pertama dengan tambang dengan tanpa menalinya. Lalu dipeganginya tambang itu sembari sedikit ditarik mendekati ke pipa kedua. Pluunnng!!! Haa……! Celaka, tali tambang itu terlepas dan pipa terjun bebas ke dalam sumur, padahal belum sempat Pak Juan meraih pipa kedua!
Pak Juan : “Buuun…..!” Pak Juan panik.
Istri : “Ada apa Yah?” balas istrinya.
Pak Juan : “Pipanya jatuh ke sumur!” pekik Pak Juan.
Istri : “Tuh, kan! Apa tadi aku bilang, kan harus ditali dulu pipanya!” sergah sang istri.
Pak Juan : “Ya, ya… maaf! Terus gimana nih?” pinta Pak Juan. Sang Istri mendekat.
Istri : “Hmmm… gimana toh ini...? Ealah, nasib! Masalah pertama belum teratasi malah tambah masalah kedua. Duh, niatnya mau mandiri biar gak repot malah jadi gak karuan nih. Ya dah kita makan dulu aja yuk.”ajak sang istri.
Pak Juan : “Ok!” jawab Pak Juan.
Sembari makan mereka berdiskusi bagaimana cara mengeluarkan pipa pertama yang terjun ke sumur itu. Usai makan, mereka lanjut kerja keras dan peras otak. Mereka sepakat untuk mencoba menyambung-nyambung pipa yang lain. Setelah itu mereka memasukkannya dan mencoba mengaitkannya pada pipa yang terjatuh di dalam. Beberapa kali mencoba dengan meraba-raba, akhirnya pipa itu bisa nyanthol dengan pas pada ujung lobang pipa yang di dalam. Merasa kedua ujung lobang pipa yang dari luar dan yang di dalam sudah masuk, mereka memutarnya. Dan… ternyata drat kedua ujung pipa bekerja. Akhirnya pipa itu bisa ditarik ke atas. Selanjutnya pipa itu disambungkan lagi dengan lebih kuat. Selanjutnya dua pipa yang tersambung itu mereka gunakan untuk menjebol bongkahan arang dan bata yang tersangkut di tengah sumur itu. Hentakan pertama belum berhasil. Hentakan kedua dihujam dengan lebih kuat. Luamayan ada sedikit gerakan. Dicoba lagi dengan lebih besemagat ketiga, keempat, kelima dan “brooolll…!” Berhasil, runtuh juga ‘beteng’ arang dan bata yang menghadang di tengah sumur itu. Mereka pun mendorongnya sampai tantas hingga ke dasar sumur dengan empat pipa habis tersambung. Lega, haru dan gembira terpancar di wajah mereka. Kini tinggal memasukkan seluruh pipa yang hendak digunakan beserta pompanya. Setelah semuanya selesai, Pak Juan tak sabar untuk mencoba menghidupkan pompa. Akhirnya…
Pak Juan : “Yeyyy, berhasil!”
Istrinya : “Airnya pun lebih jernih!”
Pak Juan : “Ya, berkat arang dan pecahan bata.”
Begitulah sekelumit pangalaman Pak Juan menjadi ahli sumur pertama kali!***