Home Publikasi Berita Detail Berita

Detail Berita

Komedi Dunia Mimpi

Yuanes Indarto
Berita
07 Februari 2025 04:34:51

Image Berita


cerpen

Komedi Dunia Mimpi

Karya: Reza Arif Hizbullah (SMAN 2 Wates)

 Pip pip… Aries Express telah sampai di tujuan, dimohon penumpang turun dengan tertib.”

Cavery Motel tampak megah dari luar, begitu ramai dan terang pada malam hari. Memang seharusnya zaman sekarang malam sudah tidak mencekam seperti dulu. Alasan yang menyebabkan tempat ini ramai karena Cavery Motel adalah tempat penghubung antara dunia nyata dan dunia mimpi. Entah fenomena apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi. Berdasarkan rumor yang beredar, orang yang menemukan tempat ini adalah seseorang yang sangat Istimewa pada masanya.

“Jadi, ini tempat pemberhentian kita sekarang?” tanya Sila penasaran.

“Benar, ini tempatnya,” jawab Zena.

“Wow, impresif!” kata Sila.

Disaat sedang berbincang, mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang resepsionis. “Permisi tuan dan nona, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.

“Ada, bisakah Anda menyambut tamu jangan sampai membuat mereka terkejut?” ucap Zena sedikit kesal.

“Maaf atas kelancanganku, Tuan. Jika Anda ingin memesan kamar, silakan lewat sini,” jawab resepsionis sambil menunjukan jalan.

Mereka berdua mengikuti resepsionis. Di tengah perjalanan, Sila sekilas melihat para SOT atau Security on Technology yang sedang menyelidiki sesuatu. Namun, Sila menghiraukannya dan lanjut ke tempat pendaftaran bersama Zena.

Selesai melakukan pendaftaran, Sila dan Zena menuju ke kamar yang sudah dipesan. Sila sangat heran dengan suasana Covery Motel yang begitu tenang seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan. Namun begitu, masih terlihat petugas-petugas Covery motel yang sedang mengantarkan barang para tamu.

Sila dan Zena sampai di kamar mereka. Fasilitas kamar itu sangat lengkap, ada kamar mandi, hingga tempat untuk bersantai yang disediakan begitu rapi.

“Zen, jika ini kamar mandi, lalu itu apa?” tanya Sila menunjuk kolam yang memiliki luas seperti kasur.

“Sepertinya itu yang dinamakan dream pool atau tempat penghubung dunia nyata dengan dunia mimpi,” jawab Zena.

“Hmm... lalu bagaimana cara menggunakannya?” tanya Sila yang masih penasaran.

Zena pun masuk ke dream pool dan mencoba memejamkan matanya. Dalam sekejap ia langsung tertidur pulas seakan sudah tidur beberapa hari. Sila sangat terkejut melihatnya. Air dalam dream pool itu berwarna aneh. Namun, untuk membayar rasa penasarannya, dengan ragu ia ikut mencoba tidur di dream pool yang berbeda.

“Astaga naga!”  teriak Sila terjatuh dari awan.

Bugh! Tubuh Sila terjatuh di sebuah taman kota.

“Ya ampun, kenapa hukum gravitasi masih berlaku disini?” keluh Sila sambil bangun dari jatuhnya.

Sila langsung terkejut saat memandang lingkungan sekitarnya yang begitu menakjubkan seakan-akan ia dibawa ke masa depan. Ada mahluk-mahluk seperti mesin yang hidup layaknya makhluk hidup pada umumnya, dan anehnya mereka dapat berbicara seperti manusia. Ternyata yang membuat Covery Motel terasa sepi adalah semua tamu sudah berada di tempat megah ini.

Golden Time? Jadi, itu nama tempat ini,” kata Sila membaca tulisan di menara termegah di sana. “Tunggu dulu, Zena di mana?”

“Menakjubkan!”

Itulah kata Zena yang sedang berkeliling di Golden Time. Ia sangat takjub dan terheran dengan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Ia seolah berada di dunia nyata, tetapi hukum di dunia ini berbeda. Ketika Zena sedang menyusuri jalan, ia tidak sengaja menabrak seorang yang berpakaian rapi, dirinya sontak meminta maaf. Namun, orang itu tidak mempermasalahkan dan ia memperkenalkan dirinya sebagai Sen atau orang-orang sering menyebutnya dengan julukan The Leader, yaitu pemimpin dunia mimpi. Zena yang mendengarnya terkejut. Ia baru datang ke dunia mimpi dan langsung bertemu dengan orang penting di sana.

”Maaf atas kelancangan saya tadi,” Zena meminta maaf.

“Tidak apa, kamu juga baru pertama kali datang di dunia ini, kan? Kuharap kamu bisa menikmatinya,” jawab Sen.

“Baik, terima kasih atas sambutannya,” jawab Zena.

Zena melangkah pergi ingin melanjutkan penjelajahannya, sementara Sen berkata kepadanya dari jauh.

“Hati-hati di jalan, jangan sampai mimpi membuatmu tenggelam lebih dalam!”

“Tunggu, maksud Anda apa?” tanya Zena yang mendegarnya. Namun, ketika ia berbalik, The Leader telah hilang.

Setelahnya, tiba-tiba guncangan dahsyat terjadi membuat gedung-gedung di Golden Time mulai runtuh. Retakan tercipta di langit Golden time. Orang-orang di sana mulai panik.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” heran Zena memandang retakan itu.

Sementara itu, di sisi lain. “Wah, lucunya!” kata Sila yang sedang memegang burung yang terbuat dari kertas.

Kemudian terdengar pengumuman berita dari layar gedung utama bahwa baru saja terjadi gempa di daerah perbatasan Golden Time.

“Tunggu, tempat seperti ini juga ada gempa?” heran Sila.

“Seharusnya tidak, tapi jika itu terjadi pasti akan terulang kembali,” kata seseorang yang menjawab rasa heran Sila.

“Tunggu, kamu kan..” kata Sila memandang orang itu seperti pernah melihatnya.

“Jangan banyak tanya lagi, ikuti aku sekarang!” kata orang itu.

“Hei, tunggu aku!” teriak Sila.

 

Akhirnya, mereka berdua sampai di suatu tempat yang sangat berkebalikan dengan Golden Time. Tempat yang benar-benar asing di mata Sila. Langit-langitnya begitu suram dan perumahan di sana begitu kumuh. Namun begitu, masih ada orang-orang yang tinggal di tempat seperti itu.

“Tempat apa sebenarnya ini?” tanya Sila.

Hell time, tempat dimana jiwa orang yang sudah putus asa dengan hidup mereka,” jawab orang itu. “Oh, ya, perkenalkan aku Aven, tim penyelidik dari SOT,” lanjutnya.

“Pantas saja aku seperti pernah melihatmu saat masih di Covery Motel,” kata Sila.

Aven menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini. Semua berawal dari ketidakseimbangan antara dunia mimpi dengan dunia nyata sejak awal kepemimpinan  Leader th6 yang menyebabkan sering terjadinya gempa dan retakan di langit mimpi. Di samping itu, jumlah penduduk Hell Time mulai bertambah seiring waktu dan itulah penyebab tim SOT mulai menyelidiki kejanggalan dunia ini.

“Jadi, apa yang harus dilakukan untuk menghentikan semua ini?” tanya Sila.

“Sebenarnya aku kurang yakin, tapi aku memiliki satu rencana,” jawab Aven.

“Beri tahu aku,” kata Sila tiba tiba menyela.

“Kita harus mencari seorang memokeeper atau orang yang dapat menyimpan memori seseorang di dunia mimpi,” ucap Aven.

“Di mana kita dapat menemukannya?” tanya Sila.

“Seharusnya dia di tempat ini,” jawab Aven.

Mereka berdua menjelajah Hell Time. Di sepanjang perjalanan, mereka bertanya kepada orang yang tinggal di sana. Sudah puluhan kali mereka bertanya, tapi mereka masih belum menemukan petunjuk satu pun. Hingga akhirnya mereka menemukan jalan yang sangat sepi. Saat penelusuran di jalan itu Aven merasakan jika mereka berdua sedang diawasi. Benar saja, mereka sedang diikuti oleh makhluk berbahan dasar gulungan film yang mulai mengikat mereka berdua.

Sudut beralih ke Zena yang sedang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga ia mendengar suara nyanyian merdu dari arah tengah Golden Time. Sontak Zena langsung ke sana dan menemukan bahwa sedang ada konser berlangsung. Ternyata saat itu ada penyambutan festival di Golden Time dan orang yang sedang bernyanyi di konser itu adalah salah satu orang penting di Golden Time. Zena mendapat ide untuk bertemu dengan orang itu, tetapi ia sangat kesulitan. Ketika ingin mendekat ke panggungnya, banyak sekali orang yang berhimpitan dan menutupi jalan.

“Astaga, lalu apa yang harus kulakukan sekarang?” keluh Zena yang sedang duduk di kursi jalan.

“Halo, ada yang bisa kubantu?” tanya seseorang dari arah belakang Zena.

Saat berpaling, Zena terkejut tidak main karena di belakangnya ternyata adalah orang yang ingin ia temui.

“Sepertinya kita pernah bertemu. Oh, ya, perkenalkan namaku Miko,” ucapnya.

 

Sementara itu, Sila dan Aven masih terlilit tali film. Seperti sudah terbiasa dengan jebakan itu, mereka dapat bebas dengan mudah.

“Aneh, entah kenapa aku seperti pernah terjebak seperti ini sebelumnya,” kata Sila.

“Hebat! Seperti yang kuduga, orang seperti kalian akan mudah lepas dari jebakan sepele itu,” kata seseorang yang berada di belakang mereka.

“Tunggu, kau adalah resepsionis yang tadi?” tanya Sila.

“Ternyata ingatanmu tidak buruk juga, ya,” ucapnya.

Setelah terlepas, Aven dan Sila meminta penjelasan pada resepsionis itu. Ia memperkenalkan dirinya sebagai memokeeper atau orang-orang sering memanggilnya Tuan Reka. Ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini.

Ketidakseimbangan dan kekacauan telah menimpa dunia mimpi. Semua terjadi karena orb atau energi penggerak mimpi mulai terkuras seiring waktu. Hal ini yang membuat retakan terjadi di dunia mimpi. Namun, semua itu harusnya sudah tertambal oleh harapan seseorang di dunia ini dan mengubahnya menjadi orb, tapi The Leader yang sekarang justru mengabaikan hal tersebut. The Leader menggantikan sumber energi itu dengan jiwa seseorang, lalu membuatnya tidak mau pergi dari dunia ini. Dan hari ini adalah hari di mana energi akan diisi lagi dengan jiwa mereka yang berada di dunia mimpi

“Sudah cukup basa-basinya, langsung kita lakukan saja seperti dulu!” ujar Aven.

“Dulu?” tanya Sila dengan bingung.

“Hebat. Ternyata kamu sudah ingat apa yang terjadi. Benar, kita semua sebenarnya pernah bertemu sebelumnya dan melakukan ini. Namun, entah kenapa waktu seakan membawa kita ke masa lalu. Sebenarnya The Leader sudah kalah, tapi ia mengembalikan waktu dunia ini ke waktu saat kalian baru datang ke dunia ini.”

“Jadi, maksudmu kami sudah berada di dunia mimpi sejak kita pertama kali menginjak di Covery Motel?” tanya Sila.

“Sejak kau masuk dunia mimpi, Looping atau pembalikan waktu ini sudah mulai terjadi,” jawab Tuan Reka.

“Kenapa aku?” tanya Sila lagi.

“Karena dari semua orang, kau adalah orang yang pertama kali sadar saat looping pertama terjadi,” jawab Tuan Reka.

Setelahnya, Tuan Reka memberi tahu rencana untuk menghentikan semua ini. Mereka punya dua pilihan, yaitu menghancurkan The Leader atau menyadarkannya. Walaupun saat looping sebelumnya The Leader sudah hancur berkali-kali, looping selanjutnya masih bisa terjadi. Mungkin saja sebelum kehancurannya, ia menggunakan energinya untuk melakukan looping. Sekarang, mereka mungkin akan berhasil menyadarkannya, dan rencana Tuan Reka adalah membuat looping ini gagal dengan membuat kesadaran Sila saat selesai pertarungan stabil dan memperlambat proses looping yang akan terjadi. Di saat itu pula Reka akan menggunakan kekuatannya untuk menghentikan looping ke waktu saat mereka sedang melawan The Leader yang seharusnya mulai melemah.

“Baik, aku paham sekarang,” kata Sila.

Gud! Sekarang ambil ini,” ucap Reka sambil memberikan senjata berbentuk gitar.

“Aku ingat, ini adalah senjata peninggalan pendiri dunia mimpi yang pertama,” kata Sila.

“Bagus! Aku tidak perlu menjelaskannya lagi,” ujar Tuan Reka.

“Sudah siap? Ayo kita berangkat sekarang!” ujar Aven.

Mereka bertiga berangkat ke tempat The Leader berada, yaitu panggung opera gedung utama Golden Time. Di sana adalah tempat upacara festival akan dimulai dan titik di mana jiwa orang akan diserap sebagai energi. Tibanya mereka di sana, mereka melihat The Leader sedang berdiri di tengah panggung dan sedang mempersiapkan upacaranya.

“Senang bertemu dengan kalian lagi wahai orang-orang terpilih,” kata The Leader.

“Apa maksudmu dengan orang terpilih? Sudahi semua ini!” ucap Sila dengan spontan.

“Menghentikan? Untuk apa? Bukankah tempat ini adalah tempat yang mereka mau? Tempat di mana orang tidak perlu repot memikirkan masalah dunia, tempat orang bisa melakukan segalanya yang ia mau, lalu apa salahnya membuat jiwa mereka terkurung di dunia mimpi ini? Bukankah itu yang mereka mau?” kata The Leader.

“Cukup basa-basimu!” kata Sila dengan penuh amarah.

“Aku tidak pernah bosan melawan kalian seperti ini,” ujar The Leader.

Gempa terjadi kembali dan membuat retakan besar mulai muncul di panggung opera dan dalam retakan itu muncul monster dunia mimpi yang disebut dengan Meme yang dikendalikan oleh The Leader untuk menghancurkan mereka berdua,

Pertarungan terjadi. Sila dan Aven mengerahkan semua tenaga mereka untuk melakukan perlawanan terhadap monster itu. Aven menembakinya dengan senjata yang ia dapat dari mahluk dunia mimpi, sementara Sila membuat gelombang energi dari petikan gitarnya. Akhirnya, mereka dapat melemahkan monster Meme dan membuat The Leader terjatuh ke retakan. Di saat itu pula Sila tersadar, itu adalah momennya. Ia langsung menenangkan diri dan fokus dengan looping yang akan terjadi dan waktu terhenti.

Fokus

Biarkan waktu menggiringmu ke jalan yang benar

Mimpi, harapan, semua disini bergantung pada mu

Kau lah orang terpilih

Baiklah

Tuan Reka, sekarang!

“Walau aku sudah bertemu denganmu untuk ketujuh kalinya, aku tidak pernah bosan bekerja sama denganmu, Tuanku.”

Waktu mulai terhenti ke waktu saat mereka akan melawan The Leader dan membuatnya terkejut karena tidak menyangka looping-nya akan gagal. Di saat itu pula Zena tiba-tiba datang dan pertarungan mereka diiringi nyanyian dari Miko yang ternyata adalah adik dari The Leader.

“Miko apa yang sebenarnya kau lakukan?” tanya The Leader.

“Kakak cukup, dunia mimpi bukan tempat di mana harapan akan sirna,” jawab Miko.

“Cukup!” teriak Sen The Leader.

Akhirnya pertarungan terjadi kembali. Kali ini Sila dan teman-temannya lebih unggul karena The Leader sudah kehabisan energi saat melakukan looping sebelumnya dan akhirnya monster itu melemah. Namun, The Leader tidak jatuh lagi ke retakan itu, justru ia bertanya dengan Sila.

What do we dream for?”

Because, someday, we will awake from our dream.”

Sen yang mendengarkannya langsung tersadar dan jatuh ke dunia retakan itu. Namun, tiba-tiba ada yang memeluknya saat ia terjatuh,

“Kakak, mimpi sudah berakhir.”

 

TAMAT

Source: iua

WhatsApp Chat