Dolanan-dolanan aja padha tukaran
Sing gedhe ngemong sing cilik sing cilik manut sing gedhe
Tembang dolanan bocah yang pada suatu zaman pernah hits ini kembali bertalun pada even Wisata Buku, Dispussip, 17 Mei 2023. Liriknya yang unik, sederhana, dan penuh makna mampu memikat siswa-siswi peserta wisata buku dari SDN Demen yang berjumlah 18 siswa dan 3 guru pendamping ini. Dengan tiga kali latihan, mereka pun sudah hafal dan berani tampil! Tembang dolanan Jawa sengaja dipilih menjadi tema Wisata Buku kali ini oleh tim pemandu wisata, Nurul Fahmayanti, SIP dan Y. Indarto. “Kami sengaja memilih tema budaya Jawa khususnya tembang dolanan agar anak-anak mengenal dan bangga dengan kekayaan budayanya.” Ucap Kak May (sapaan akrab Nurul Fahmayanti, SIP). Tembang lain yang sempat dibawakan pada kesempatan ini ialah “Siji Loro Telu”:
Siji loro telu, astane sedheku
Mirengake Bu Guru manawa didangu
Papat nuli lima, lenggahe sing tata
Ora pareng sembrana mundhak ora bisa
Gema lantunan tembang-tembang bocah membangkitkan gariah, setelah menit-menit awal berlangsung datar oleh paparan pengenalan seputar perpustakaan. Usai perkenalan dan basa-basi penyambutan, tiba-tiba Kak May nimbrung ke depan menemani Yua. Cuap-cuap berdua layaknya talk show mampu mencipta suasana. Langkah cerdas Kak May berhasil! Peserta wisata terpancing masuk pada obrolan pemandu dan larut. Mereka yang tadinya diam-pasif, menjadi berani dan aktif. Acuman pertanyaan seputar perpustakaan berhasil merangsang daya nalar mereka yang polos dan spontan, lugas, lucu, serta menggelitik. Membantu merefresh ingatan tentang apa yang mereka lihat ketika memasuki gedung, pemandu memperlihatkan gambar locker dan lemari katalog. Pada ketika yang sama, pemandu menanyakan kepada mereka apa nama gambar itu. Antusias, mereka berebut menjawab! Geli melihat mereka asal jawab dan berceloteh, namun bangga setidaknya sudah berani tampil. Setelah tahu nama, berikutnya ditanyakan lagi apa fungsi lemari tersebut. Kembali mereka berebut menjawab. Puiih.. suana sungguh hidup!
Sukses menghafal tembang dolanan, anak-anak diminta menerjemahkan tembang tersebut dalam Bahasa Indonesia. Banyak yang mencoba, beberapa berhasil, sebagian besar masih salah! Luar biasa. Ini menjadi cara efektif menyelamatkan budaya yang semakin terasing dari pemangkunya. Horee… anak-anak gembira nembang sembari mendapat banyak pengalaman dan hal baru. Inilah Wisata Buku! Target pemandu sederhana: para siswa mampu melantunkan satu saja tembang dolanan yang penuh makna itu ketika sudah di rumah. Semoga tembang yang sarat pesan ini membekas dan membentuk karakter mereka hingga kelak. Akhirnya wisata buku kali ini sukses berkat langkah cerdas Kak May! (you are)