Home Publikasi Berita Detail Berita

Detail Berita

Pengemis Berpayung Biru

Yuanes Indarto
Berita
19 Januari 2025 02:57:28

Image Berita


Cerpen--Minggu, 19 Januari 2025

(Mahasiswa Magang Sastra Indonesia UNY)

 

Sudah kedua kali. Sam mendapati seorang pengemis singgah di teras rumahnya. Membawa sebuah payung biru dengan pakaian lusuh yang masih sama seperti kemarin. Pria berpayung biru itu duduk di teras beralaskan keramik yang dingin. Terdiam mengamati sekitar dengan payung biru yang setia di genggamannya.

 

Sam menggenggam tangan kecil Nico erat, membawanya masuk ke rumah, berjalan melewati pengemis itu yang tak menghiraukan kedatangannya. “Nico masuk ke kamar, ya, jangan keluar. Ayah harus ke kantor lagi,” ucapnya sembari mengusap kepala anaknya. Nico mengangguk, lalu berlari ke kamarnya.

 

Dari ambang pintu dirinya melihat pengemis itu masih di posisi yang sama. Sam menghela napas panjang. Dirinya tak bisa tenang meninggalkan rumah selama pria asing ini masih ada. Ia menyiapkan uang lebih banyak dari kemarin yang ia berikan, berharap pengemis itu tak kembali.

 

“Ini, ambil uangnya. Setelah itu, tolong jangan duduk di sini lagi,” ucap Sam tegas.

 

Pengemis itu hanya memandang Sam sejenak. Tak sedikitpun melirik uang yang diberikan seolah memang tidak berminat. Pandangan pengemis itu kembali melihat sekitar dengan tatapan dungu.

 

Sam sedikit geram. “Ini, ambil uangnya, lalu pergi!” Secara paksa ia menyerahkan uang itu.

 

Pengemis itu akhirnya menurut. Ia pergi membawa uang yang diberikan tanpa sepatah katapun. Ia seperti tak ingin membuat tuan rumah semakin marah.

 

Namun, esok harinya, ketika Sam pulang dari menjemput Nico, di waktu yang sama pengemis itu ada di sana, di tempat yang sama. Duduk di teras rumah dengan tatapan dungu dan membisu. Namun, anehnya, kali ini pengemis itu langsung pergi sesaat setelah menyadari kehadiran Sam dan Nico.

 

Hari berganti hari. Situasi ini terus berulang membuat Sam gelisah. Kehadiran pengemis itu memberikan rasa tak aman ketika dirinya harus meninggalkan Nico sendiri di rumah.

 

Hingga suatu hari, saat mobil Sam masuk ke pekarangan rumah sepulang menjemput Nico, dirinya melihat pengemis itu mengintip kaca jendela rumahnya. Amarahnya memuncak. Ia segera menghampiri pengemis itu.

 

“Hei! Apa yang kau lakukan? Pergi dari rumah ini sekarang!” Sam mengusir pria itu dengan kasar. Mendorongnya kuat dan menodongkan sapu agar pengemis itu segera pergi.

 

Pengemis itu tertunduk. Segera dirinya pergi membawa payung birunya yang selalu setia di genggamannya. Lagi dan lagi, pengemis itu pergi tak meninggalkan sepatah katapun.

 

Hari berganti. Pengemis itu tidak lagi datang. Sam merasa lega. Namun, di sisi lain ia juga merasa sedikit aneh karena kehadiran pengemis itu seperti sudah menjadi kebiasaan yang tidak diinginkan.

 

“Nico, kamu tetap di kamar dan jangan ke mana-mana, ya,” ucap Sam sebelum meninggalkan kamar anaknya. Seperti hari biasa, Sam kembali bekerja setelah menjemput Nico sekolah.

 

Hari menjelang malam, Sam pulang lebih awal dari biasanya. Perasaannya gelisah. Ia tak tau hal apa yang membuat perasaannya tak nyaman, tetapi pikirannya langsung tertuju pada Nico. Mobil Sam memasuki pekarangan rumah yang tampak sepi seperti biasa. Semua tampak normal. Namun, siapa yang menyangka ketika pintu terbuka seisi rumah hancur berantakan.

 

“Nico!” Sam memanggil anaknya. Nico tidak ada di kamar. Ia mencari ke seluruh sudut rumah, tetapi anak itu tidak ditemukan.

 

Pikirannya langsung tertuju pada pengemis itu. “Pasti dia! Dia yang menculik Nico!”

 

Sam bergegas pergi melapor polisi. Ia mengemudikan mobil dengan tangan gemetar, bibirnya tak henti berdoa untuk keselamatan Nico. Di tengah kekhawatirannya, perjalanannya terganggu oleh kerumunan warga di pinggir jalan yang berhadapan langsung dengan gedung pabrik yang lama kosong. Tampak mobil polisi dan ambulans juga hadir di sana.

 

Pikiran Sam berkecamuk. Dirinya turun dari mobil, ingin memastikan banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Sam berjalan dengan langkah berat, tak siap melihat apa yang terjadi di depannya.

 

Dua pria telah dibekuk polisi. Petugas kesehatan menangani seorang pria yang terbaring tak bernyawa. Pria yang telah banyak kehilangan darah dari luka yang menganga di perut kirinya. 

 

Sam menyaksikan itu semua. Ia meraih sebuah payung biru yang bentuknya sudah tak beraturan. Matanya sangat mengenali siapa pemilik barang ini.

 

“Ayah!”

 

Pandangannya beralih pada seorang anak kecil yang menangis ditemani dua orang polisi. Sam berlari menghampiri anaknya. Memeluknya erat dan berulang kali mengucapkan kata maaf.

 

Seorang saksi mengatakan pria itu melawan penculik bersenjata tajam dengan payung birunya di saat warga lainnya tak memiliki keberanian untuk ikut campur. Sam tidak pernah menyangka. Seseorang yang ia curigai ternyata menjadi penyelamat hidupnya. Ia hampir kehilangan semuanya. Kehilangan harta dan separuh jiwanya. Sudah cukup baginya merasakan kehilangan sang istri. Kini ia akan menjaga Nico jauh lebih hati-hati.

 

Penyesalan dan rasa bersalah menghantam hatinya setiap kali mengingat pengemis berpayung biru itu. Sam pun tidak pernah tau. Pengemis berpayung biru tak pernah benar-benar pergi saat itu. Saat Sam mengusirnya. Saat Sam berlaku kasar. Ia tetap di sana. Di suatu tempat, di luar jangkauan mata Sam. Entah bagaimana pengemis berpayung biru itu seakan tau perampokan dan penculikan akan terjadi. Seperti malaikat yang sengaja dikirim untuk menjaga keluarga kecil Sam.

Source: iua

WhatsApp Chat