cerpen
(Mahasiswa Magang Sastra Indonesia UNY)
Dunia selalu ramai. Hanya saja sunyi, bagi Biru. Biarpun telah dalam kesunyian, perpustakaan kota menjadi pilihannya mencari ketenangan. Aroma buku yang khas bercampur dengan pendingin ruangan menciptakan suasana damai yang membuat hatinya nyaman.
Namun, hari itu tampak berbeda. Bangku di sudut ruang sastra yang menjadi andalannya terisi seseorang. Seorang gadis dengan rambut hitam menjuntai indah. Mata teduhnya tertuju pada sebuah novel tebal di tangannya. Biru terpaku. Ada suatu hal yang membuat dirinya sulit berpaling dari gadis itu. Cantik.
Hari berganti. Biru kembali menemukan gadis itu lagi. Di sudut yang sama, kali ini dengan novel berbeda. Masih dengan mata teduh itu, Biru kembali terpaku. Tanpa sadar seutas senyum muncul. Sebelum akhirnya ia memilih menjauh tak ingin mengganggu.
Hal itu terus berulang. Sudah kali keempat Biru mendapati gadis itu di sudut yang sama. Masih juga dengan perasaan ragunya untuk mulai menyapa. Bukan tak memiliki keberanian. Hanya saja tak tau bagaimana memulai percakapan. Biru membutuhkan keberanian lebih besar dibandingkan orang lain.
Apa dia akan mengerti jika kusapa? pikir Biru.
Entah dorongan dari mana, langkah kakinya mendekati gadis itu. Jantungnya berdetak lebih cepat. Kehadirannya membuat gadis itu mendongak. Tampak sedikit terkejut, tapi tak lama gadis itu tersenyum ramah. Senyuman yang membuat Biru lebih tenang.
Biru menuliskan sesuatu di buku catatan kecilnya. Hai, aku Biru. Aku sering melihatmu di sini.
Gadis itu terdiam sejenak membaca tulisan yang ditunjukkan Biru. Tak lama tangannya terangkat dan mulai berbicara dengan bahasa isyarat yang fasih. “Hai, aku Nala. Aku juga sering melihatmu di sini, senang berkenalan denganmu.”
Ekspresi terkejut terlihat di wajahnya. Biru menggerakkan tangannya cepat, “kamu bisa bahasa isyarat?”
“Ya, hanya dengan ini aku bisa mengekspresikan apa yang aku rasakan,” gadis itu kembali membalas dengan gerakan tangannya.
Biru hampir tak percaya, lalu menarik kursi dan duduk di hadapan Nala. Tangan Biru bergerak dengan perlahan. “Kita sama.”
Keduanya tersenyum. Mereka mulai berbincang dengan bahasa yang mungkin hanya sebagian orang mampu pahami, seperti mereka. Semudah itu mereka terasa dekat melalui gerak tangan yang indah.
“Aku bisa menyelesaikan satu novel setiap hari.”
Biru menampilkan ekspresi kagum. “Wow, sepertinya kamu sangat suka membaca.”
“Tentu, dengan membaca kita jadi tau seperti apa dunia.”
Nala bercerita bahwa akhir-akhir ini ia sering ke perpustakaan untuk mencari inspirasi menulis. Biru juga mengatakan bahwa ia menyukai perpustakaan karena suasana tempatnya yang tenang. Mereka menyadari bahwa mereka berdua menemukan kenyamanan di tempat yang sama.
“Kamu tau apa yang paling aku suka di perpustakaan?” Biru bertanya.
Nala menggeleng dengan ekspresi ingin tau.
Biru tersenyum dan tangannya mulai bergerak, “Karena di sini, aku bisa meminjam buku... dan juga hatimu.”
Nala menutup mulutnya mengisyaratkan tawa, wajahnya merona. Ia membalas dengan gerak tangan cepat dan ekspresi wajah yang seolah ikut berbicara. “Kalau begitu, jangan lupa kembalikan hatiku tepat waktu. Denda keterlambatan di sini cukup berat!”
Mereka berdua tertawa terbahak, tentu dengan cara mereka sendiri. Tangannya bergerak cepat dengan gerakan isyarat tawa dan mata mereka berbinar penuh bahagia.
Waktu tak terasa cepat berlalu. Biru dan Nala berbincang hingga langit mulai memerah. Ketika perpustakaan mengumumkan waktu tutup, mereka berpamitan dengan senyum lebar. Mulai saat itu, ikatan antara mereka tercipta. Sebuah hubungan hangat yang lahir dalam keheningan dengan cara komunikasi yang indah.***