Home Publikasi Berita Detail Berita

Detail Berita

Sepatu Roda Aira

Yuanes Indarto
Berita
07 Februari 2025 04:25:20

Image Berita


cerpen

Sepatu Roda Aira

Karya: Luthfia Tiarasati (MTsN 6 Kulon Progo)

 

"GAK MAU! POKOKNYA AIRA GAK MAU MAKAN!"

 

Seorang ibu dengan mata teduhnya menatap sang suami yang juga tengah menyiratkan sebuah kekhawatiran. Netra mereka memantulkan sebuah bayangan laksana cahaya, yang juga sesuci susu segar di pagi hari. Sang Ayah menghela napas panjang, "Aira... Ayah udah bilang kalau sepatu roda Aira bakalan datang kalau gaji Ayah udah cair. Tunggu sampai lima hari lagi ya, Aira?"

 

Ada sebuah perkataan pelik yang belum dapat kuartikan saat itu. Bagaimana cara Ayah menatap mataku dengan tulus dan memohon, yang juga memperlihatkan betapa bencinya ia dengan keadaan ekonomi keluarga saat ini. Setidaknya, sesaat sebelum beranjak dewasa, aku tidak pernah bisa menyadarinya.

 

Terdengar suara hentakan kaki di ruang makan, Ibuku yang tengah menghangatkan satu panci sayur memejamkan matanya akibat teriakan melengkingku. "GAK MAU, GAK MAU!! AIRA MAUNYA SEKARANG!! HUWEEE...!!" Aku memukul meja dan menghentakkan alat makanku, beberapa jatuh bergelimpang karenanya. "AYAH SAMA IBU JAHAT!! AYAH UDAH BILANG MAU BELIIN AIRA SEPATU RODA MINGGU INI!! TAPI KENAPA SEKARANG AIRA HARUS NUNGGU LAGI?!! HUWEEE...!!"

 

Pada saat itu, aku mengabaikan tatapan memohon Ayah yang benar benar menyiratkan sebuah janji. Aku tidak pernah tau apa yang menjadi penyebab tertundanya pembelian sepatu roda yang dijanjikan Ayah waktu itu, jadi wajar saja jika aku menagihnya kembali. Meskipun dengan cara yang agak kasar. Normalnya bagi anak seusia kami yang cenderung bertindak sebelum berpikir, mungkin memang salahku karena terlalu sentimentil hari itu.

 

Gerakan tangan ibu yang tengah mengaduk gulai sayur terhenti begitu saja. Beberapa derap langkah membuat jarak kami semakin terkikis hingga ia menepuk pundak Ayah yang berjongkok di depan posisi dudukku. "Masuklah kedalam, aku yang akan mengurusnya." Sejujurnya, entah benar atau tidak gagasanku mengenai ucapan ibu kala itu, tapi dari gerak bibir yang kubaca sembari setengah menyipitkan mata karena merajuk, setidaknya inilah hasil final yang akhirnya bisa aku simpulkan.

 

Ayah menatapku sekali lagi, dengan tatapan terluka yang sama. Aku tetap acuh, memilih memanyunkan bibir lebih tajam dan meraung sekencang yang aku bisa. Bahkan setelah ayah pergi, aku melompat dari kursi kemudian berguling di atas lantai. Ibu yang waktu itu tidak menyangka akan menghadapi kenakalanku yang bisa dibilang agak keterlaluan, memijit pelipisnya pelan. "Aira, Ibu gak segan segan jewer kamu kalau kamu ga mau berhenti nangis sekarang."

 

Aku sempat terdiam sejenak. Mendengar kata 'jewer', membuat keberanianku terkikis seperempat lebih banyak. Tapi kejadian ini hanya sesaat, aku kembali berguling di atas lantai sembari memutar tubuh kesana kemari. Sebenarnya, kepalaku sakit dan mulai merasa pusing, tapi aku tidak mempermasalahkannya waktu itu. Yang ada di dalam pikiranku hanya sepatu roda, dan apa yang ku lakukan saat itu adalah usaha paling mujarab yang memang harus aku coba.

 

Sebuah tangan panjang menarik lengan bajuku kemudian mendudukkan tubuhku yang memberontak secara paksa. Tangisanku mereda begitu melihat Ibu melotot tajam ke arahku, bola matanya seakan menghunuskan sebuah pedang yang juga memancarkan gelegar cahaya di saat yang bersamaan. Ibu menatapku intens setelah raungan ku berhenti karena takut akan pelototannya, "Aira, Ibu ga akan pernah biarin sikap kamu yang baru saja itu terjadi lagi." Ibu berkata tajam padaku, sebuah peringatan pertama dan kuharap juga menjadi yang terakhir.

 

Hidungku mengeluarkan lendir, mataku merah dan tenggorokanku terasa tercekat. Aku masih menangis sesegukan, mungkin jika yang di depanku bukanlah dua jari yang mampu mengamit paha atau bahuku kemudian memutarnya kencang kencang, aku akan meraung di lantai seperti beberapa waktu yang lalu. Ibu masih mendelikkan matanya garang, "Ibu dan Ayah gak pernah ngajarin kamu hal seperti tadi, Aira. Ibu dan Ayah mau Aira jadi anak yang baik, penurut, dan ga pernah kasar. Bukan Aira pembangkang yang bahkan gak bisa disuruh untuk menunggu selama lima hari." Ibu menatapku sembari jongkok. Umurku lima tahun saat itu, jadi tinggi badan ibu saat jongkok adalah tinggi badanku mulai dari kepala sampai kaki.

 

Aku masih sesenggukan, tidak berani menatap ibu atau membalas ucapannya sedikitpun. 

 

Kulihat pelototan ibu mengendur, tatapannya menjadi lebih hangat dengan pantulan kaca yang indah. Kedua tangannya meraih bahuku secara perlahan, mendekap tubuhku dengan kedua tangan kasar yang entah kenapa sangat kusuka itu. "Aira, ayah udah janji bakalan beliin Aira sepatu roda kalau gaji ayah udah turun lima hari kemudian. Apa Aira gak bisa nahan diri sebentar? Apa Aira jadi anak perempuan yang gak sabaran sekarang?" tanya ibuku. Dia menatapku dengan kecewa, aku tau pasti arti tatapannya. Tak pernah sekalipun dalam hidup aku mendapatkan tatapan yang seperti itu, maka penuturan ibu saat itu bagaikan petir di siang bolong untuk hatiku.

 

Aku menggelengkan kepalaku cepat cepat. Pipiku yang masih gembul bergoyang kecil mengiringi gelenganku, dan aku bisa melihat dengan jelas, kalau baru saja ada sebuah senyum yang terukir di wajah Ibu. "Aira gak mau kan jadi anak yang gak sabaran? Aira memangnya mau dikutuk jadi malin kundang atau batu menangis?"

 

Aku gelagapan. Itu adalah cerita rakyat yang sering sekali ibu kisahkan untukku. Sebelum tidur, kami selalu berbagi pikiran mengenai anak-anak durhaka yang kemudian mendapatkan pelajaran setimpal dari alam. Aku juga tidak menyukai mereka, bahkan bisa juga sangat membenci. Lantas, apakah aku akan jadi seperti mereka hanya karena satu pasang sepatu roda? Pikirku kala itu.

 

Lagi lagi aku menggeleng, setelah mengatur napas yang agak sesak, aku berbicara secara tertatih. "Gak mau... Aira gak mau jadi batu... Aira sayang ayah ibu... Hiks... Hiks... Maafin Aira... Hikss...!"

 

Melihatku yang semakin tak terkendali, ibu memeluk tubuhku. Dengan mudah aku masuk ke dalam rengkuhan hangatnya dalam sekali tarik. Ibu menyisir rambutku menggunakan telapak tangannya yang kasar, "Nah, Aira gak mau kan jadi kaya mereka? Ibu juga sayang Aira, makanya ibu marahin Aira biar ibu ga kutuk Aira jadi batu." Ibu melepaskan pelukannya dariku, pipiku yang merah dengan hidung sembab dan mata yang menyipit mengangguk paham. "Sekarang, kalau Aira udah tau, apa yang harus Aira lakukan...?" tanya ibu melanjutkan perkataannya.

 

Aku mengusap air mataku dengan kasar. "Aira... Aira mau minta maaf...." ujarku merasa agak canggung setelah dimarahi ibu karena melawan perkataan mereka. "Aira janji gak akan nakal lagi, Aira juga ga akan nyusahin ibu. Aira janji bakalan jadi anak baik yang penurut dan punya tingkat kesabaran tinggi!"

 

Tawa ibu mengudara, ia mengusap pucuk kepalaku penuh kasih sayang. Matanya yang bening menatapku dengan begitu teduh, sampai sampai membuatku takut tenggelam dalam dikaranya. "Nah sekarang, Aira juga harus minta maaf sama ayah. Aira tadi juga bentak ayah kan? Gak cuman ibu yang bisa kutuk Aira jadi batu, tapi ayah juga bisa, bahkan bisa aja lebih dari itu. Selama Aira jadi anak baik yang penurut dan gak pernah membangkang, ibu yakin ayah bakalan sayang sama Aira dan beliin sepatu roda sesuai kaya yang Aira mau." Ibu memegang dua tangan kecilku, sekali lagi tatapannya mengarah tepat ke dalam netraku, membuat aku tidak bisa bergerak dalam hipnotis lingkaran hitam itu.

 

Aku mengangguk cepat-cepat, kemudian menyeka sisa air mata yang turun sampai ke dagu. Kaki kaki kecilku berlari menuju kamar ayah, menyerukan namanya sembari berlari dengan nada yang bergetar. Di ambang pintu pun sama. Tubuhku yang takut bergerak perlahan menuju ayah yang membelakangi posisi berdiriku. Aku ingat dengan jelas, ayah menggumamkan sesuatu sembari melinting beberapa kertas. Decakan kecil sesekali keluar dari mulutnya, membuat langkahku terhenti di tengah-tengah.

 

Kutarik napasku dalam-dalam sekali lagi. Mencoba mendekati ayah bukanlah hal yang mudah kulakukan kala itu, mengingat dosa yang telah ku perbuat padanya adalah sebuah kesalahan besar yang bisa saja tidak diampuni, atau malah mungkin berpotensi menghambatku menemui sepatu roda yang kuinginkan dari ayah. Aku menyerukan namanya dengan begitu lirih, kutahan air mata yang menggenang di pelupuk mata sekuat yang aku bisa. "Ayah..." panggilku entah yang kesekian, namun ayah tetap tidak membalikkan badannya.

 

Aku mulai gelagapan. Menganggap ayah benar benar marah dan tidak akan pernah memaafkan ku kali ini. Aku menapakkan langkah beberapa derap lebih berani, mengikis jarak antara kami dengan berdiriku yang berada di ambang pintu, juga ayah yang duduk di atas ranjang reot miliknya itu. Kupanggil sekali lagi pahlawan pemberani yang selalu menyenangkan hari-hari ku itu, dengan intonasi suara yang semakin bergetar, "...Ayah..."

 

Kali ini aku berhasil, ayah membalikkan badannya karena terkejut. Kala itu, apa saja yang jadi tindakan ayah akan semakin menakutkan kala diperhatikan, dan tentu saja bagi anak labil dengan keinginan tinggi untuk mencapai sesuatu yang ia inginkan ini, tidak pernah paham akan arti tatapan tulus seorang ayah yang tidak tergantikan. Aku menunduk dalam tanpa berani melepas tatap. Ayah mengamatiku dengan seksama, memasang raut cemas karena melihat bahu putri kecilnya yang bergetar karena tangis. "Ma-Maaf, Ayah... Maaf... AiraAira nakal... Aira bukan anak baik yang penurut dan sabar... Aira... Aira pantas dimarahi ayah dan ibu... Aira minta maaf, Ayah. Aira gak akan ulangi hal yang sama lain kali. Tolong... Tolong jangan benci Aira... Aira cuman mauAira cuman mau perhatian dari ayah dan ibu..."

 

Bahu kecilku terguncang beberapa detik setelahnya. Kurasakan dengan jelas tangan besar ayah yang keras dan kaku menyentuh kedua pundakku secara perlahan. Tubuhnya yang berjongkok melebihi beberapa centimeter tinggi badanku. Lihatlah kala itu, ayah menyesali perbuatannya, ayah marah karena tidak bisa mengabulkan permintaan putri tercintanya, ayah juga sedih karena anak perempuan mungil yang ia sayangi, menangis karena tidak dapat memenuhi satu satunya keinginan kecilnya sejak berbulan-bulan yang lalu.

 

Ayah menangkup kedua pipiku, wajahku dipaksa untuk mendongak ke arahnya. Kini aku menyelami dua netra bundarnya yang selama ini kuabaikan betapa teduhnya tatapan yang dipancarkan dari sana. Ayah tersenyum lembut, senyum paling lembut di dunia yang menjadi selalu favoritku. "Siapa yang bilang ayah benci Aira? Gak mungkin dong, ada seorang superhero yang benci sama orang yang dia tolong? Aira kan tau kalau ayah ini pahlawan super dan Aira adalah putri yang harus ayah lindungi. Jadi, mana mungkin ayah benci sama Aira?" Ayah menekan hidungku yang memerah. Air mata di pelupukku mulai menyurut, aku kembali menghadapi raut jenaka ayah yang menyenangkan seperti biasanya lagi.

 

Ayah menarikku dalam rengkuhannya, "Maaf, Aira. Ayah yang seharusnya minta maaf." Kudengar ayah menghela napas, "Ayah ga bisa penuhin kemauan pertama Aira. Padahal selama ini, Aira gak pernah minta apapun ke ayah dan ibu. Aira juga ga pernah nakal dan selalu jadi anak baik yang penurut. Harusnya, ayah kasih sepatu roda untuk Aira sejak dulu sebagai hadiah, bukan sebagai hal yang Aira mau dan ga bisa Aira dapetin sampai sekarang."

 

Ayah tersenyum di balik kepalaku, tangan besarnya naik ke belakang tengkuk, mengusapnya penuh kasih sembari berkedip menahan air mata yang hampir luruh. "Maaf ya, Aira? Keuangan keluarga kita memang gak begitu bagus. Proyek yang ayah kerjakan lagi ada masalah, dan kebutuhan sekolah Aira juga harus dipikirkan. Sebentar lagi, Aira masuk SD kan? Ayah janji bakalan beliin Aira sepatu roda yang Aira mau lima hari lagi. Sampai saat itu, Aira mau jadi anak baik yang sayang ayah dan ibu? Selama lima hari itu, ayah usahakan dapat uang lebih banyak, InsyaAllah, jalan halal yang ayah ambil bisa membuahkan hasil dan penuhin permintaan Aira yang satu ini."

 

Pertahananku runtuh. Seorang anak kecil berusia lima tahun yang mengharapkan sepasang sepatu berdoa empat, menangis di dalam pelukan ayahnya yang begitu sejuk. Aira kecil menumpahkan segala sedih dan penyesalannya di dalam pelukan ayah yang tiada banding kehangatannya. Sama sekali tidak kusadari, kalau ayah juga menangis di balik punggungku yang rapuh. Ayah juga mengusap ujung matanya yang berair sembari terus menepuk ujung kepalaku berusaha menenangkan.

 

Sejak hari itu, aku memutuskan untuk membuang jauh jauh keinginan untuk memiliki sepasang sepatu roda. Dalam lima hari kedepan, entah benar benar akan di belikan atau tidak oleh ayah, aku tidak lagi peduli. Asalkan segala kebutuhan keluarga bisa di penuhi, aku tidak masalah untuk menahan keinginan sementara ku yang jelas-jelas merupakan wujud perilaku ikut-ikutan, melihat keadaan yang berlaku di lingkungan tempat tinggalku membahas sepatu roda dengan ramai.

 

Lima hari kemudian, aku menjalankan rutinitas seperti biasa. Menjelang magrib, teman seumuranku dari rumah bedongan di seberang jalan datang ke depan pintu. Rambutnya tertutup hijab, dengan setelan baju lengan panjang dan rok terpisah mencapai mata kaki. Temanku menenteng kitab Iqra' dalam pelukannya. Ia berseru memanggilku sembari membenarkan sajadah di atas kepalanya.

 

Sudah menjadi sebuah kebiasaan, saat ayah yang akan pulang dari bekerja setelah magrib  tiba, dan ibu yang menunggu kepulangan ayah sembari beribadah di dalam rumah, aku akan pergi ke masjid terdekat bersama temanku. Kami akan melaksanakan shalat berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan belajar mengaji bersama ustad dan ustadzah yang mengajar di hari itu. Sama seperti hari hari biasanya, sore ini, aku dengan temanku berjalan perlahan menuju masjid, menjaga sajadah yang ada di atas kepala agar tetap ada disana sebagai bentuk lomba. Kami memang begitu, siapa yang berhasil mempertahankan sajadah terlama, akan mendapat barang berupa permen atau alat tulis seperti pensil, pulpen, penghapus, dan lain sebagainya.

 

Sore itu juga, aku melambaikan tangan kepada ibu yang bersiap dengan mukenanya, meminta izin dengan semestinya dan berkata akan pulang sebelum isya' seperti biasanya. Jalanan desa kami menjadi gelap saat isya, dan temanku dari seberang jalan tidak diperbolehkan pulang larut malam melebihi maghrib. Sama seperti biasanya, kami akan meniti jalan menuju rumah masing-masing dengan bergandengan tangan ria sembari membahas beberapa topik ringan yang biasa dikeluarkan anak anak berusia 5 tahun. Semua rutinitas berjalan sama, lima hari terakhir memiliki agenda yang berlaku seperti biasa.

 

Tapi, hari itu tidak pernah menjadi seperti biasanya.

 

Hari itu, kegiatan belajar mengaji kami diliburkan secara total. Ada edaran yang mengatakan bahwa akan dilakukan perbaikan besar-besaran untuk membongkar bangunan ruang mengaji kami agar dapat di jadikan lebih baik lagi. Aku dan teman baikku meniti jalan dengan meletakkan sajadah di atas kepala kami, sama seperti saat keberangkatan kami menuju masjid yang berjarak sekitar dua menit waktu tempuh dengan berjalan kaki.

 

Raut kebingungan tercetak jelas di atas wajahku kala itu. Orang-Orang dewasa di sekitar tubuh kami nampak berlarian menyerukan sebuah kepanikan. Tertenteng di kedua tangan mereka, ember-ember besar yang berisikan air di dalamnya. Beberapa orang kaya yang punya selang panjang berukuran besar menyeret gulungan benda berguna yang berperan sebagai perantara jalannya air tersebut. Aku dan temanku saling pandang. Ada sebuah kejadian yang mendasari mereka menyeret air dengan jumlah sebanyak itu. Ada sebuah kejadian yang menimbulkan kepanikan dan seruan tak tertahankan dari bibir mereka. Sesuatu hal apapun yang mendasari perilaku demikian, jelas bukan sebuah kejadian yang harus dibanggakan.

 

"KEBAKARAN! RUMAH SAMAD KEBAKARAN! SAJIDAH DAN SAMAD ADA DI DALAM RUMAH YANG TERBAKAR!! KEBAKARAN DI RUMAH SAMAD DAN SAJIDAH!! SAMAD DAN SAJIDAH ADA DI DALAM!!"

 

Apa...?

 

Tubuhku memacu langkah, sajadah tenun buatan Ibu terbang entah ke arah mana. Lariku yang secepat kilat meninggalkan teman seberang jalanku di belakang, dengan kondisi kebingungan dan belum dapat mencerna segala kejadian yang berlaku saat itu.

 

Tetapi aku tidak begitu.

 

Sajidah, nama yang begitu dekat. Nama yang begitu indah dan mencerminkan wanita penyabar dengan kasih sayang seluas samudra. Ibu yang aku sayangi. Ibu terbaik di seluruh dunia yang tidak akan pernah mengubahku menjadi seonggok batu tidak bernyawa. Ibu yang selalu sabar menghadapi semua sifat nakalku, perubahan suasana hatiku yang kian tak menentu. Ibu yang punya tangan terlembut di seluruh dunia meski harus bertabrakan dengan panci panas dan parutan kelapa setiap harinya. Sosok wanita pemberani yang sama, dengan pemilik pelukan terlembut di seluruh alam semesta, wanita rajin yang tekun dan penuh disiplin dalam menjalankan kehidupan sehari harinya.

 

Samad adalah nama suaminya yang dia cintai, seorang superhero asli yang lebih keren daripada kenampakan di balik layar televisi. Pria hebat yang rela mengorbankan nyawa demi keberlangsungan hidup anak dan istri yang ia kasihi, meskipun harus membayar dengan bantingan di sana-sini. Pria pemberani yang tidak pernah mengudarakan nada tinggi ketika menyapa dan juga mengingatkanku akan kesalahan yang tanpa sengaja kulakukan. Mereka adalah dua orang hebat, dua orang tua yang aku sayangi. Dua orang tua... Dua orang tuaku yang benar-benar menjadi pilar kehidupan bagi dunia yang aku jalani. Maka... Tolong, jangan Tuhan. Tidak boleh... Tidak boleh, Tuhan. JANGAN AMBIL MEREKA!

 

Mataku yang bulat dan polos menatap asap hitam yang beranjak naik menghiasi langit bertabur bintang. Dalam senja yang temaram, cahaya oranye di atas sana bertubrukan dengan nyala api yang berkobar di rumah hijau kami yang sering diduduki ayah pada bagian terasnya, kemudian aku yang akan datang mengganggu kegiatan membaca koran pagi ayah dengan menarik ujung kemeja yang ia kenakan, dan ibu yang akan berseru di balik pintu sembari membawakan segelas kopi dan sepiring camilan lezat. Kenangan-kenangan indah yang menempati keagungannya sendiri di dalam ingatan, membuatku semakin terpuruk dalam jurang keputusasaan.

 

Langkahku tertahan oleh tangan-tangan besar dan seruan yang memintaku untuk tetap berada dalam jarak aman. Saat itu, hanya tersisa beberapa langkah lagi... Hanya beberapa langkah lagi aku akan sampai ke pelukan hangat ibu yang dilindungi oleh tangan besar ayah. Sedikit lagi… Sedikit lagi aku… "Aira! Jangan dekat dekat dengan api! Ayah ibu Aira baik-baik aja, Aira jangan maju lebih dari ini!" Seruan yang tidak berguna. Dalam hati aku hanya merapalkan nama ayah dan ibu, saat mereka selamat dan tentram di dalam sejuknya rumah kecil kami, api kecil ini tidak akan membahayakan mana saja bagian tubuhku yang rapuh.

 

"Tidak... Tidak... IBU! AYAH! IBU DAN AYAH ADA DI DALAM! IBU DAN AYAH AIRA ADA DI DALAM! AIRA HARUS... AIRA HARUS MASUK!! IBUUU!! AYAAHHHH!!!"

 

Tetangga seberang rumah sekaligus ibu teman mengajiku membawaku menjauh dari lokasi kebakaran. Pipiku basah oleh air mata, tubuhku memberontak di dalam pelukan ibu orang lain, tubuhku yang mungil mencoba menyusup di balik celah yang bisa saja terjadi kala aku mengerahkan tenagaku sedikit lagi. Namun apa dayaku kala itu. Seorang anak berusia lima tahun dengan pakaian mengajinya yang saat ini entah berbentuk seperti apa, akhirnya luruh di dalam pelukan seorang wanita tak sedarah yang memaksaku menerima pahit getirnya peristiwa dalam hidup yang saat ini tengah berlaku di depan mata.

 

Pandangan ku perlahan mengabur dengan sendirinya. Segala suara yang aku dengar di sekitar tubuhku semakin melebur bersama dengung memekakkan yang menguasai pendengaranku. Dalam sisa sisa kesadaran yang kupunya kala itu, sebuah kantong berwarna merah muda yang menyembulkan sepatu beroda berwarna biru di dalamnya, menarik sisa kesadaranku. Ujung-Ujung rodanya yang terbakar membuat sebuah lubang kekosongan yang tak bisa aku jelaskan seperti apa rasa sakitnya. Itu adalah sepatu roda yang aku inginkan, sepatu roda Aira yang menjadi idaman sejak lama, sepatu roda... sepatu roda yang nampak mahal dan begitu sempurna di mata Aira, perlahan terbakar kobaran api yang semakin merembet ke pekarangan hijau rumah kami. Sesak, paru-paruku mulai mengalami penurunan fungsi dalam menyerap dan mengeluarkan udara. Pandanganku semakin menghitam, tubuhku melemas dan akhirnya akupun jatuh pingsan.

 

Fakta yang aku tau setelah diam-diam mendengar pembicaraan antara para warga di area pemakaman, adalah tentang perjuangan Samad yang dengan gagah berani menerobos kobaran api besar sendirian demi menyelamatkan Sajidah yang hendak menuntaskan rakaat terakhir dalam shalatnya. Sujud terakhir Sajidah yang selalu lama dan penuh pengharapan serta doa-doa, menjadi shalat terakhir yang membawanya menuju kebahagiaan abadi di akhirat kelak. Cinta yang dibawa sampai mati. Demikianlah mereka menjudulkan kisah heroik ayahku yang rela berkorban demi menyelamatkan istrinya di dalam sebuah bangunan yang di lahap si jago merah.

 

Kala itu, Ibu tengah melakukan sujud terakhir sebagai penyempurna dalam shalat tiga rakaatnya, sujud terlama yang aku tau, juga sujud terkhusyu' dengan seribu harapan hidup dan-doa untukku menjalani keseharian dengan nyaman. Ibu yang hendak menuju tahiyat akhir tak menyadari konsleting listrik di wilayah pekarangan belakang rumah kami, menimbulkan percikan api yang dengan cepat membesar dalam rambatannya. Perabotan rumah kami yang di dominasi kayu dan juga bambu, menjadi bahan sulutan yang tepat untuk membawa nyala api menuju sujud terakhir ibu yang tengah menulikan pendengaran untuk menghayati setiap doa yang ia rapalkan.

 

Ibu tidak menyadari, bahwa atap rumah di atas punggung tegarnya sedikit demi sedikit tergerus kobaran api hingga patah di bagian sana-sini. Usuk kayu mulai berjatuhan, menimpa bagian kepala ibu untuk kemudian disusul material berupa genting dan kayu-kayu penyangga yang lainnya. Tubuh hangat ibu yang selalu mendekapku dengan penuh kasih, tertimbun reruntuhan dengan cepat sesaat sebelum ia mencapai posisi tahiyat akhir dalam shalat tiga rakaatnya.

 

Ayah yang saat itu pulang lebih awal dengan suasana riang setelah membelikan aku sepasang sepatu roda yang telah menjadi keinginan sejak lama, bergegas menuju rumah kami begitu melihat asap hitam membumbung di atas langit. Kantong merah muda yang ia temteng dengan suka cita dilemparkan begitu saja tanpa kepedulian. Ayahku masuk ke dalam nyala api untuk menyelamatkan sang istri yang diyakini masih berada di dalam sana.

 

Langit senja yang jadi saksi, kesiur angin kecil menerpa pepohonan yang menerbangkan satu-dua daun daun ringan. Ayahku tertimbun reruntuhan sesaat setelah berhasil mengeluarkan ibu dalam balutan mukena putih bercorak bunga yang sangat ia sukai. Kaki ayah dihantam pilar-pilar kayu yang menjadi bara panas, membuat kulit bagian luarnya terbakar habis bersama dagingnya. Dengan sisa kesadaran yang ada, Ayah memeluk ibu yang nampak semakin tenang memejamkan kedua matanya. Tembok rumah kami ambruk menimpa tubuh mereka yang bersatu dalam ikatan cinta dan kasih, menimbun kisah penuh haru yang pernah terjadi di sebuah pedesaan kecil tempat mereka menjalin sebuah bahtera rumah tangga.

 

Sepatu roda yang kulihat kala itu adalah sebuah pembuktian nyata dari bentuk ketulusan ayah yang tiada banding di antara ribuan orang lainnya. Tubuh tegar ibu yang masih mengenakan mukena terbujur kaku dalam pelukan ayah yang menerima lebih banyak luka. Mereka berdua bersama sama pergi meninggalkan dunia ini, menatap luasnya langit yang tak berbilang, meninggalkan luka dan lara yang tidak dapat dihilangkan. Aku terisak dalam diam. Ayah dan ibuku yang lima hari lalu memintaku untuk menjadi anak penurut yang berjiwa besar lagi penuh kesabaran, kini diturunkan ke bawah liang lahat setelah serangkaian prosesi diselesaikan. Batu nisan yang di pegang tetangga-tetanggaku mengukir nama indah mereka dalam keabadian.

 

Samad bin Abullah, dan Sajidah binti Rabiah. Kedua orang tua yang aku sayangi, kini pergi menemui hasil dari perjuangan mereka mempertahankan hidup selama tiga puluh tahun lamanya. Kedua orang tua yang selalu punya cara untuk menyenangkan hati anak kesayangan mereka, kini meninggalkan luka mendalam dan beban kehidupan kepada anak yang mereka bahagiakan. Kedua orang tua yang selalu menjadi panutan dalam segala tindakan, kini terbujur kaku dalam balutan kain kafan, menemui akhirat yang menanti kedatangan mereka membawa seluruh amal kebaikan.

 

Bertahun-tahun lamanya aku menanti kehadiran mereka menjejaki alam mimpi. Bukan atas dasar tidak dapat menerima atau menyalahkan jalan hidup yang telah Tuhan turunkan, aku hanya rindu. Rindu kedua orang tuaku yang penuh kasih dan sayang. Rindu dibacakan dongeng sebelum tidur oleh ibu, rindu tawa jenaka ayah yang menyaksikan perlakuan konyol yang aku perbuat. Semua memori indah kami bersenang senang di bawah hujan, menari-nari di atas rumput hijau bersama kupu-kupu indah yang berlomba-lomba memamerkan warna cerah mereka, serta momen makan malam bersama yang selalu menjadi kebiasaan. Aku rindu semua hal tentang ayah dan ibu... Aku merindukan keberadaan mereka yang mendukung segala keinginanku. Aku rindu... Benar benar rindu.

 

Dalam guyuran hujan lebat dan petir yang menyambar sore itu, langkahku tertatih menuju pemakaman umum yang membariskan ratusan nisan berlainan marga. Beberapa derap yang kutimbulkan hampir membawaku menemui dua pusara berwarna merah keunguan dengan nisan biru kehitaman di sebelahnya. Kantong bunga dan tiga botol air menemani perjalananku kali ini. Salah satu tanganku yang memegang payung menenteng sebuah pigura foto berisi sejuta kenangan tak tergantikan. Jatuh terduduk tubuhku di atas tanah yang basah, bersimpuh mengadu kepada Tuhan, mengapa harus mereka yang engkau hilangkan?

 

Tangan ku menabur kelopak mawar yang sangat disukai ibu. Satu botol air ku tuangkan ke nisan ayah yang mulai ditumbuhi beberapa ilalang. Tubuhku berada di antara nisan nisan tersebut, membuatku merasakan kehangatan lama yang begitu dirindukan. "Ibu, tau nggak? Teman depan rumahku, Rena, kemarin dia dilamar sama pacarnya. Pacarnya datang bersama keluarga besar, mereka bawa banyak makanan enak. Rena gak begitu suka, jadi aku yang dapat jatah lebih banyak." Aku terkekeh getir, mencabuti beberapa tumbuhan liar yang merambat di sekitar nisan ibu. "Kemarin Baskara datang kerumah, dia minta Aira buat siap-siap karena dia mau boyong Aira cepat-cepat. Baskara minta Aira buat pilih, mau tetep di desa atau ikut ke kota bareng dia."

 

Aku berpindah menuju nisan ayah, membasuh nama yang tertera di sana dengan air yang tersisa, "Kalau ayah ada, mungkin ayah bakalan nyuruh Aira buat ke kota bareng Baskara. Tapi kenapa, ya? Rasanya, Aira bakalan nentang kalau ayah nyuruh Aira pergi ke kota. Aira gak mau ninggalin ayah dan ibu, Aira juga ga mau lupain kenangan kita disini dua puluh tahun yang lalu." Aku mengumpulkan beberapa ilalang yang telah dicabuti, kemudian menatap kedua nisan ayah dan ibu sembari tertawa kecil, "Untung aja, Baskara ngertiin Aira. Dia ga marah dan bilang gak masalah kalau Aira mau tinggal di desa. Baskara juga bakalan kembangin usaha konstruksinya sebentar lagi, jadi kami bakalan punya rumah tetap setelah Baskara pindah kesini."

 

Tangan kananku menyeka ujung dagu yang menggantungkan air mata, "Kalau ayah dan ibu ada, gimana reaksi ayah dan ibu waktu lihat Aira jadi istri Baskara secara sah di mata agama dan hukum? Gimana reaksi ayah dan ibu kalau Aira pergi dari rumah buat tinggal sama suami Aira di rumah yang lain? Apa ayah dan ibu... Bakalan sedih?" Gelegar cahaya melesat di atas kepalaku, mengukir senyumku yang semakin lebar, namun terlihat menyakitkan. "Udah Aira duga, ayah dan ibu pasti bakalan sedih..."

 

Tanganku menurunkan dua pigura berharga yang menjadi harta terbaikku di dunia. Sebuah bingkai kayu berlapiskan kaca, memuat secarik kertas berisikan kenangan manis keluarga kecil yang aku sayangi. Tanganku terulur meletakkan pigura-pigura tersebut ke atas nisan yang bertuliskan dua nama yang begitu dekat dengan hatiku. Senyum ku kian melebar bersama air mata yang kian menderas, "Nah, Aira bawa hadiah kali ini. Kemarin Baskara bawain tiga pigura kecil buat Aira. Baskara minta Aira buat isi tiga pigura ini." Tanganku mengusap dua pigura kecil yang kini berdiri tegak di atas pusara terakhir ayah dan ibu. "Aira langsung terpikir ayah dan ibu. Gimana kalau ayah ibu kangen sama Aira, tapi Aira belum bisa dateng ke sini? Jadi, Aira bawain kenangan terakhir Aira buat ayah dan ibu biar kalian ga merasa kesepian lagi." Aku tertawa kecil. "Tapi, Aira yakin kalian gak akan kesepian, pasti disana indah banget, ya? Pasti ibu dan ayah lagi liat Aira dari langit sekarang. Gimana ya ekspresi ayah dan ibu sekarang? Ayah dan ibu.... Apa ayah dan ibu bisa bangga sama Aira?"

 

Rinai varsha yang kian menetes membuatku semakin hanyut dalam kesedihan, rintik air yang turun menyamarkan tangisku yang semakin deras seiring waktu berjalan. Payung hitamku jatuh dari genggaman, aku bersimpuh di atas nisan ayah dan ibuku, meminta kehangatan yang tidak akan pernah lagi mereka berikan. Biarkan hujan yang menjawab kesendirian ini, membentuk sebuah kenangan pahit yang tak pernah kulupakan semasa hidupku nanti. Segala kenangan yang terjadi dua puluh tahun lalu, biarlah terkubur bersama doa dan harapan akan lancarnya jalan kehidupan yang akan kujalani.

 

Tuhan, semoga kedua orang tuaku menerima surgamu sebagai balasan segala amalan.  Jadikan mereka orang tua paling bahagia di dunia, mudahkan segala keinginan mereka, dan kabulkanlah segala doa yang berada di setiap sujud mereka. Diciumnya pipi kiriku kala itu, semoga menjadi kenangan membahagiakan yang senantiasa menimbulkan senyum.

Source: iua

WhatsApp Chat